Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Agustus 2017 | 21.11 WIB

Waspada! Serangan DDoS Incar Perusahaan Kelas Kakap

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com – Serangan DDoS kembali muncul pada kuartal kedua (Q2) 2017 dengan sasaran komputer atau server di dalam
jaringan internet.


Target serangan DDoS di antaranya salah satu kantor berita terbesar, Al Jazeera, situs berita dari harian Le Monde dan Figaro, bahkan kabarnya menyerang server Skype.


Serangan terpanjang di kuartal ini berlangsung selama 277 jam (lebih dari 11 hari). Hal itu menunjukkan adanya kenaikan 131 persen
jika dibandingkan dengan kuartal pertama (Q1).


Berdasar laporan Botnet 2017 dari ahli Kaspersky Lab, serangan tersebut memecahkan rekor terlama untuk tahun ini.


Dugaan awal, serangan DDos bertujuan mendapatkan uang. Para pelaku diketahui melakukan manipulasi nilai tukar mata uang crypto.


Penggunaan jenis serangan ini demi mendapatkan uang sangat menguntungkan, seperti halnya yang terlihat dari tren Ransom DDoS atau RDoS.


Durasi bukanlah satu-satunya ciri khas serangan DDoS yang terjadi pada periode April hingga Juni. Perubahan dramatis juga terjadi pada
geografi dari insiden tersebut, di mana organisasi berbasis online yang berada di 86 negara menjadi target pada kuartal kedua (dibandingkan dengan Q1 sebanyak 72 negara).


Sebanyak 10 negara yang paling parah terkena dampaknya adalah China, Korea Selatan, Amerika Serikat, Hong Kong, Inggris, Rusia,
Italia, Belanda, Kanada dan Prancis.


Italia dan Belanda menggantikan posisi Vietnam dan Denmark yang merupakan salah satu sasaran utama pada Q1.


"Saat ini, jumlah perangkat terkoneksi berjumlah ratusan juta, tetapi segera akan bertambah menjadi miliaran perangkat. Tidak semua
dari perangkat ini dilindungi dengan cukup baik, jadi mereka cenderung menjadi kaki tangan dari beberapa botnet. Dan botnet yang besar
bahkan mampu melakukan beberapa aksi yang buruk," ungkap General Manager SEA Lab Kaspersky, Sylvia Ng, Senin (28/8).


Pada kuartal kedua tahun 2017, peningkatan mata uang crypto juga menyebabkan pelaku kejahatan siber mencoba memanipulasi harga melalui serangan DDoS.


Bitfinex, bursa perdagangan Bitcoin terbesar, diserang bersamaan dengan peluncuran dari perdagangan mata uang crypto terbaru yang
disebut IOTA token. Sebelumnya, agensi penukaran BTC-E melaporkan adanya perlambatan karena serangan DDoS yang kuat.


Penjahat siber biasanya mengirim pesan kepada korban dan menuntut uang tebusan yang berkisar antara 5 sampai 200 bitcoin.


Jika perusahaan menolak membayar, penyerang mengancam untuk melakukanserangan DDoS pada basis online milik korban yang sangat penting.


Pesan tersebut bisa disertai serangan DDoS jangka pendek untuk mengkonfirmasi bahwa ancaman tersebut benar-benar nyata.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore