JawaPos Radar

41 Persen Pengguna Handphone Terancam Jadi Sasaran Penjahat Siber

01/11/2017, 22:18 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Kejahatan Siber
Ilustrasi kejahatan siber (pixabay)
Share this

JawaPos.com - Kehidupan di era digital membuat semua orang memiliki ketergantungan pada perangkat gadget mereka, terutama handphone. Namun, hal itu tak diikuti dengan kesadaran penggunaan keamanan perangkat digital untuk menjamin keamanan siber. 

Survei terbaru Kaspersky Lab dalam Cyber Security Index menunjukan perubahan perilaku pengguna internet dan risiko yang mereka menghadapi. 

Pada paruh pertama tahun 2017 survei menunjukkan, pengguna gadget semakin mobile, namun tak didukung dengan solusi keamanan. 

Kaspersky Cyber Security Index didasarkan pada hasil survei online pengguna internet di seluruh dunia, yang dilakukan dua kali setahun oleh Kaspersky Lab. 

Pada paruh pertama 2017, survei dilakukan kepada 21.081 pengguna dari 32 negara, berusia 16 tahun atau lebih.

"Penelitian tersebut menemukan bahwa pengguna modern semakin jarang menggunakan komputer untuk aktivitas online mereka, tetapi lebih memilih untuk menggunakan perangkat mobile," ujar Head of Consumer Business di Kaspersky Lab, Andrei Mochola dalam keterangan tertulis pada JawaPos.com, Rabu (1/11).

Sebagai contoh email, di mana 78 persen pengguna mengakses akun email mereka dari komputer. Jumlah tersebut jelas berkurang dari enam bulan sebelumnya yang masih mencapai 87 persen. 

“Tercatat, sebanyak 67 persen melakukannya dari perangkat mobile. Jumlah pengguna yang menggunakan perangkat mobile mereka untuk belanja online pun naik menjadi 50 persen dari sebelumnya hanya 41 persen,” ujar Andrei. 

Selain itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, jumlah rata-rata perangkat komputer di rumah tangga menunjukkan sedikit penurunan. 

Pada saat bersamaan, jumlah pengguna yang dilindungi solusi keamanan juga menurun. Pada akhir 2016, hanya 39 persen responden yang tidak melindungi semua perangkat mereka, kini ada 41 persen pengguna yang mengaku tidak memiliki perlindungan sama sekali. 

“Hal ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa pengguna semakin sering menggunakan perangkat mobile, maka justru semakin tinggi resikonya,” paparnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up