
Sujiwo Tejo
SELALU repot menentukan botok teri di kota itu bikinan siapa. Setiap botok teri yang gurih-gurih, apalagi kalau lamtoronya kerasa, otomatis masyarakat klaim botok terinya Bu Jendro. Legenda hidup botok teri itu memang rutin setiap dini hari mengedarkan botok-botok dahsyatnya ke warung-warung di seluruh kota. Awak pengedarnya tak terhitung.
Lho? Kan pasti pengedaran itu tidak sanggup mencakup seluruh warung, sebanyak kantor KPU pun jumlah awak pengedar itu? Ini kota lumayan besar, Bung!
Bisa saja tetap ada botok teri lezat, yang jumlah terinya lebih banyak daripada yang di nasi kucing, tapi bukan bikinan Bu Jendro.
Ah, warga kota mana peduli. Pokoknya, botok yang bikin merem-melek pasti buah tangan Bu Jendro. Botok yang tekstur parutan kelapanya muda dipastikan bukan kelasnya karya agung Bu Jendro mereka lepeh. Melepeh pun masih mengumpat pula, ”Yang begini ini made in Bu Jendro? Botok dari Hongkong kali!!!”
Padahal, di mana-mana namanya kenyelenehan pasti ada. Masak, sih, di antara seribu botok bikinan Bu Jendro tak ada satu-dua yang nyeleneh? Di antara jutaan orang Nusantara toh pasti ada juga yang tak senang Pak Prabowo dan Pak Jokowi bersatu, Pak Prabowo makan nasi goreng Mbak Mega.
Tapi, ngomong-ngomong, emangnya pembuat botok hanya Bu Jendro? Di kota itu, para perempuan selain beliau dikatakan tak menghasilkan apa pun yang berharga. Survei sumber daya manusia kota itu menghasilkan monopoli di bidang kuliner botok sebagaimana monopoli di bidang-bidang lain. Tugu peringatan, prasasti, arca-arca dan nama jalan, dan segala sesuatu yang mungkin menguak diversifikasi kota telah diubah secara terstruktur, masif, dan sistematis.
Photo
Bahwa, seluruh tugu peringatan, arca-arca, hingga nama jalan bikinan tokoh A. Seluruh tembang-tembang bikinan tokoh B. Sebagaimana seluruh botok teri-lamtoro adalah bikinan Bu Jendro.
Bu Jendro sudah menduga akan begini. Bagaimanapun, ia sudah sering mendengar mengenai persekongkolan di kota itu. Ia cuma tidak siap mengetahui bahwa, bahkan, botok pun terkesan dimonopoli oleh dinastinya, dinasti yang secara turun-temurun melahirkan pemimpin.
Untungnya, entah kenapa, kesabaran istri Pak Sastro itu seperti tak bertapal batas. Jadi, sesudah makan botoknya sendiri, ia merapikan diri. Mematut-matut make-up matanya. Dan, menurut cerita tangan kanannya, Bu Sastro berkata dengan suara paling santai, ”Tampaknya demokrasi di kota ini bagus sekali”
Seorang wartawan berdecak. Kekagumannya pada kota ini bukanlah rasa kagum terhadap prestasi kota yang mungkin kucing saja bisa mencapainya. Misalnya mencuri ikan asin. Ya, wartawan itu takjub pada prestasi yang tak semua orang bisa melakukannya. Bilang ”Demokrasi di kota ini bagus” padahal maksud Bu Jendro sebaliknya, itu prestasi! Walau hanya si wartawan satu-satunya yang tahu itu di antara seluruh warga kota.
Sekarang, kesan monopoli kian merantak. Bukan saja botok, warga mulai yakin bahwa tembang-tembang, prasasti, sampai arca-arca di kota pun bikinan Bu Jendro. Bahkan pertemuan-pertemuan rekonsiliasi para pemimpin mereka anggap direkayasa oleh Bu Jendro.
Sampai akhirnya, suatu hari, wartawan itu menulis berita bahwa sejatinya Bu Jendro tidak ada. Istri Pak Sastro itu cuma mitos. Seperti Sangkuriang pada Gunung Tangkuban Perahu yang baru erupsi.
”Hah? Bukannya Sangkuriang betul-betul ada? Bukannya ibunya yang akan dinikahinya, Dayang Sumbi dan ayahnya, anjing si Tumang, juga betul-betul ada?” seorang pembaca bertanya-tanya, sambil dilahapnya ”nasi goreng Mbak Mega”.
*Sujiwo Tejo tinggal di twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
