
Ilustrasi pekerja pabrik. Dok. JawaPos
JawaPos.com–Keberadaan transportasi publik Surabaya disoroti platform Transport for Surabaya (TFS). Platform di Twitter dan Instagram dengan nama @tfsurabaya itu sering mengulik tentang keberadaan transportasi publik lewat kontennya.
Aditya Cakasana Janottama, salah satu founder TFS mengungkapkan, platform tersebut bertujuan untuk menginformasikan sustainable transportation khususnya di Kota Surabaya. Dia berharap ada transportasi publik yang berkelanjutan, tidak hanya berguna bagi masyarakat saat ini, namun juga pada masa yang akan datang.
”Kami sadar kalau di Surabaya masih terbuai dengan kenyamanan transportasi pribadi. Seperti mobil dan motor. Di Surabaya, 82 persen orang itu pakai motor. Sementara di Jakarta sudah menurun 60 persen,” papar Aditya pada Senin (29/3).
Menurut dia, penggunaan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil tidak bersifat sustainable. Sebab, menghadirkan polusi dan memakan space kota.
”Butuh jalan lebar, harus menghancurkan kiri kanan atas bawah. nggak sustainable,” tegas Aditya.
Dia menjelaskan, platform TFS dikelola beberapa orang yang memiliki keresahan yang sama. Meski tidak berlatar belakang dari jurusan transportasi ataupun perencanaan wilayah kota (PWK), para anggota belajar secara otodidak. Aditya sendiri merupakan seorang dokter.
”Kami selalu based on data. Jadi ketika beropini atau memberi masukan kepada Dinas Perhubungan Surabaya terkait transportasi publik, kami selalu berikan fakta berdasar buku yang kami baca,” tutur Aditya.
Sebelum TFS hadir, Aditya mengaku, beberapa founder sudah menghubungi dishub secara pribadi soal keluhan transportasi Surabaya. Namun, tidak ada balasan. Dia menyayangkan hal itu karena berkaca dari Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ), Pemerintah DKI Jakarta lebih kolaboratif.
”Kalau di Surabaya cenderung represif dan antikritik. Beberapa kali kami mengangkat topik, masukan dan analisis soal transportasi di Surabaya, tapi kami diserang buzzer. Tapi karena kami based on facts, buzzer nggak bisa berkutik,” tutur Aditya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian TFS adalah Suroboyo Bus. Dia menyayangkan janji dishub sejak 2018 yang mengatakan akan mengganti sistem pembayaran. Sejak Suroboyo Bus hadir dari awal hingga kini, sistem pembayaran masih menggunakan botol.
”Pembayaran ini salah satu penghambat kenapa Suroboyo Bus nggak laku dibandingkan moda serupa di kota lain. Dengan pembayaran botol, kalau pakai Suroboyo Bus, mau nggak mau harus minum lebih dari jumlah fisiologis yang dibutuhkan tubuh,” ujar Aditya.
Aditya menambahkan, platform yang didirikan sejak 2019 itu ingin mempromosikan dan mengedukasi warga tentang sustainable transport.
”Intinya adalah active transport dan more public transport,” kata Aditya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=tPz-iE2D7IY

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
