Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Oktober 2019 | 21.48 WIB

Anak Lahirkan Anak, Bapak yang Memerkosa Putrinya Meminta Maaf

Muslimi, terdakwa pemerkosa anak. (Dimas Maulana/Jawa Pos) - Image

Muslimi, terdakwa pemerkosa anak. (Dimas Maulana/Jawa Pos)

JawaPos.com – Bayi perempuan hasil hubungan sedarah itu akhirnya berlabuh ke UPT PPSAB Dinsos Jatim di Sidoarjo. Bayi itu lahir karena kelakuan Muslimin yang tega memerkosa putrinya sendiri. Pantaskah bapak bejat itu dimaafkan?

Unit Pelayanan Teknis Perlindungan dan Pelayanan Sosial Anak Balita (UPT PPSAB) Dinsos Jatim di Sidoarjo merawat dengan baik bayi itu kemarin (27/10). Usianya sudah dua bulan. Dia tumbuh normal. Berat badannya pun tidak kurang. Anak tersebut tidak dipelihara sendiri oleh Mawar (samaran).

Remaja 17 tahun itu masih tercatat sebagai pelajar SMK saat kasus tersebut terbongkar akhir Juli lalu. Mawar diperkosa bapaknya sendiri, Muslimin. Dia bahkan sampai hamil dua kali. Yang pertama digugurkan saat dia masih SMP.

Kemarin Jawa Pos melihat bayi itu di PPSAB, Jalan Monginsidi, Sidoarjo. Bayi itu tertidur lelap. Kata perawat, dia sehat. Gerakannya cepat. Minum susunya juga banyak. Bahkan, sudah ada keluarga yang menunggu bayi lucu tersebut. Mereka ingin mengadopsinya.

”Calon orang tua angkat (COTA) sudah ada. Tinggal menyerahkan saja,” kata Kepala UPT PPSAB Dwi Antini Sunarsih kemarin. Rencananya, bayi itu mendapatkan keluarga baru akhir 2019.

Menurut Dwi, tidak semua anak yang dirawat di PPSAB dibuang. Ada juga yang sengaja diserahkan keluarganya. Mereka tidak ingin memelihara sendiri. Alasannya macam-macam. Mulai kondisi ekonomi tidak mampu hingga orang tuanya mengalami gangguan jiwa. Ada pula yang memang tidak diinginkan seperti anak Mawar itu.

Bagaimana halnya dengan Muslimin? Jawa Pos menemuinya di ruang tahanan sementara Kejari Sidoarjo Kamis siang (24/10). Muslimin mengaku sudah tahu bahwa putrinya melahirkan. Bayi yang juga darah dagingnya itu perempuan. Lelaki 39 tahun tersebut juga mengaku tahu bayinya diserahkan ke yayasan. Dirawat orang lain.

Muslimin sendiri menjadi pesakitan. Dia harus disidang. Saat ditanya tentang anak dan istrinya, tatapan mata warga Sedati itu terlihat kosong. Namun, tidak menangis. ”Empat hari setelah ditahan, tidak ketemu lagi,” kata dia dengan suara pelan. Muslimin dijebloskan ke sel tahanan pada 31 Juli. Awalnya, keluarga masih bisa bertemu. Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi. Sampai saat ini.

Kepada Jawa Pos, Muslimin mengaku sangat ingin bertemu keluarganya. Untuk apa? Meminta maaf. ”Kulo akui pancen salah. Kulo khilaf. Minta maaf (Saya akui saya salah. Saya khilaf. Minta maaf),” ucap Muslimin, lantas menundukkan kepala.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore