Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 November 2020 | 20.48 WIB

Pemkot Surabaya Kerahkan Tim untuk Lenyapkan Genangan di Jalan

GERAK CEPAT: Petugas membongkat saluran yang tersumbat. Tumpukan sampah lantas diangkut agar aliran air kembali lancar. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

GERAK CEPAT: Petugas membongkat saluran yang tersumbat. Tumpukan sampah lantas diangkut agar aliran air kembali lancar. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com − Sejak Kamis (26/11) pukul 10.30, langit Surabaya tak lagi cerah. Awan gelap seperti bergelantungan. Salah satunya di kawasan Sukomanunggal, Tandes, Benowo, hingga Margomulyo.

Curah hujan tampak lebat. Sesekali angin berembus kencang. Petir terdengar beberapa kali. Hujan sedikit mereda pukul 12.17. Namun, tak berselang lama atau pukul 13.40, kembali turun hujan dengan intensitas lebih ringan.

Di beberapa wilayah muncul genangan pascahujan. Misalnya, di sekitar flyover Pasar Kembang dan depan Kelurahan Putat Jaya. Meski tak berlangsung lama, ketinggian genangan sampai mata kaki.

Bahkan, beberapa rumah warga di bawah flyover Pasar Kembang terendam.

Salah seorang pengguna jalan Surya Prima mengatakan, genangan di Putat tidak lama, tapi sempat membuat pengendara berhenti. Terutama yang membawa motor. Sebab, mereka khawatir genangan tersebut membuat motor mogok.

Kepala Bidang Kebersihan dari Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Arif Rusman menuturkan, genangan berlangsung kurang dari 15 menit. Hal tersebut terjadi tak lain karena volume air hujan yang tinggi. Akibatnya, air yang masuk ke saluran harus gantian.

Apalagi, beberapa titik diperkirakan tersumbat. Penyebabnya tak lain adalah sampah. Pembersihan langsung dilakukan agar genangan segera surut. ”Sejak kemarin, fokus kami adalah gorong-gorong dan box culvert,” terangnya kemarin.

Arif menyatakan, sejak pagi pihaknya membongkar saluran di sekitar Royal Plaza dan Rumah Sakit Islam (RSI) Wonokromo. Sampah plastik yang menyumbat lantas diangkut. Begitu juga di sekitar kawasan Diponegoro. Tim membersihkan saluran hingga jalan. Khususnya dari sampah ranting. Di lokasi tersebut memang sering terjadi genangan. Apalagi saat hujan lebat.

Petugas berfokus pada saluran air. Terutama yang berada di sekitar permukiman padat penduduk. Sebab, banyak sekali sampah yang ditemukan di sana. Bahkan, mereka pernah mengangkat sebuah kasur. ”Ini yang bikin parah penyumbatan,” terang Arif.

Di samping itu, saluran sering ditutup tembok. Akibatnya, aliran air terganggu. Arif menuturkan, sampah menjadi penyumbat utama air tidak lancar. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan tim yustisi sampah. Dengan harapan, masyarakat bisa jera dan tidak lagi membuang sampah di saluran.

DKRTH juga menerjunkan satgas gorong-gorong. Jumlahnya fleksibel. Yang jelas, ketika cuaca mulai mendung, tim tersebut harus bersiap. ”Ada 70 satgas setiap turun hujan. Mereka disebar di semua titik,” ucap Arif.

Selain di flyover Pasar Kembang dan depan kantor Kelurahan Putat Jaya, genangan juga terjadi di kawasan Mayjen Sungkono. Air menggenang di jalur selatan. Ketinggian genangan mencapai setengah ban mobil. Dalam waktu 28 menit, genangan berhasil surut.


Selama terjadi genangan, laju kendaraan memang lebih lambat sehingga menimbukan kepadatan di sepanjang Mayjen Sungkono. Kepadatan sedikit berimbas hingga HR Muhammad. Namun, menurut pantauan tim Jawa Pos, tidak ada kendaraan yang mati mesin akibat genangan tersebut.

Di lokasi, dua unit damkar disiapkan untuk menyedot genangan air. Dua unit tersebut berasal dari PMK kawasan kantor TVRI. ”Memang dua unit itu pasti stand by kalau terjadi hujan deras dan potensi banjir di kawasan itu,” ucap Asmadi, anggota satpol PP.

Selain itu, tim yang bertugas di lapangan membuka tutup gorong-gorong di kawasan yang tergenang. ”Kami buka sekitar tiga titik supaya air masuk lebih cepat,” jelas Abri, BKO Satpol PP Kelurahan Dukuh Pakis. Tiga titik tersebut terletak di bawah JPO hingga Halte Mayjen Sungkono 2.

Sementara itu, petugas rumah pompa underpass Mayjen Sungkono Herry mengatakan, kondisi air di folder dapat dikendalikan. Selama hujan, air di dalam folder tetap nol sentimeter. Air mengalir cukup baik ke boezem.

Sama halnya dengan air yang ada di kawasan boezem. Pria kelahiran Jombang itu menyebutkan, air di dalam boezem masih berstatus grativasi aman. Artinya, performa air mengalir dengan lancar. ”Ketinggian air di boezem hanya sekitar 50 sentimeter. Air dari boezem langsung dialirkan ke arah Margomulyo,” jelas Herry.

Saksikan video menarik berikuta ini:

https://www.youtube.com/watch?v=aoicuqj6-qY

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore