
Photo
JawaPos.com – Jumlah angkot yang beroperasi di Terminal Joyoboyo terus menurun dalam lima tahun terakhir. Kondisi angkot yang kian tua membuat penumpang semakin meninggalkannya.
Penurunan jumlah angkot yang beroperasi di Terminal Joyoboyo bisa dilihat dari data Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya. Pada 2015, angkot yang beroperasi di terminal tersebut berjumlah 1.012 unit. Tahun ini jumlahnya tinggal 188 unit. Menurunnya jumlah angkot sejalan dengan sedikitnya penumpang. Terutama setelah adanya alternatif pilihan transportasi.
Pantauan Jawa Pos kemarin (25/10) menunjukkan kondisi tersebut. Puluhan angkot ngetem di Jalan Joyoboyo sisi selatan. Angkot yang berjajar di kiri jalan itu tampak kosong.
Subriyanto, salah seorang sopir angkot jurusan Joyoboyo–Sepanjang, membenarkan soal menurunnya jumlah penumpang. Siang itu dia tampak rebahan di angkot bercat hijau miliknya. ’’Ya ini tunggu penumpang, Mas,’’ ucapnya.
Lelaki yang jadi sopir angkot sejak 1978 itu mengaku bahwa kini penghasilannya tidak menentu. Dalam sehari, dia kadang hanya memperoleh Rp 50 ribu. Namun, kalau sepi, dia pulang tanpa membawa uang.
Dulu, waktu angkot masih jaya, Subriyanto hampir tidak pernah ngetem lama di terminal. Baru sampai terminal, banyak penumpang yang masuk. Begitu terus setiap hari. Bahkan, untuk meladeni permintaan penumpang, satu angkot bisa digilir tiga sopir. ’’Ya dulu, sopirnya kaya sif pabrik begitu,’’ tuturnya.
Ketua Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia (F-SPTI) Surabaya Subekti membenarkan kondisi tersebut. Penurunan itu bisa dilihat sejak lima tahun terakhir. ’’Salah satu penyebab angkot ditinggalkan penumpang karena adanya transportasi sepeda motor murah,’’ ucapnya.
Saat ini hampir semua angkot yang beroperasi bukan milik juragan. Melainkan milik para sopir angkot itu sendiri. Kondisi tersebut, menurut Subekti, membuat kondisi angkot semakin mengenaskan. Penghasilan sopir yang pas-pasan membuat perawatan angkot kerap terbengkalai. Banyak izin angkot yang mati karena sopir tidak mampu mengurus pemutihan. ’’Kalau bisa, pemutihannya bisa digratiskan,’’ ucapnya.
Selain itu, Subekti mengatakan bahwa kini para sopir angkot membutuhkan wadah koperasi. Sebab, pengurusan angkutan umum saat ini tidak bisa atas nama pribadi. ’’Kalau ada koperasinya, izin trayek dan pemutihan bisa lebih gampang,’’ ucapnya. Subekti meminta dishub bisa memfasilitasi pembentukan atau wadah koperasi bagi angkot-angkot.
Photo

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
