Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 September 2020 | 18.48 WIB

Polrestabes Surabaya Tembak Mati Dua Bandar Narkoba

DALAM PENGEMBANGAN: Kombespol Johnny Eddizon Isir (dua dari kiri) menunjukkan barang bukti narkoba yang disita dari tersangka saat ungkap kasus di Polrestabes Surabaya, Senin (21/9). Tersangka pengedar Agus Hariyanto (depan) juga dihadirkan menyertai foto - Image

DALAM PENGEMBANGAN: Kombespol Johnny Eddizon Isir (dua dari kiri) menunjukkan barang bukti narkoba yang disita dari tersangka saat ungkap kasus di Polrestabes Surabaya, Senin (21/9). Tersangka pengedar Agus Hariyanto (depan) juga dihadirkan menyertai foto

JawaPos.com – Dor! Dor! Beberapa kali pistol polisi menyalak di salah satu hotel di kawasan utara Surabaya Senin dini hari (21/9). Dua bandar narkoba mendapat tindakan tegas terukur. Mereka ditembak karena melawan saat akan ditangkap.

Perlawanan itu tidak hanya dilakukan dengan tangan kosong. Sebab, seorang di antara mereka juga menghunuskan senjata tajam (sajam) jenis parang. ”Membahayakan nyawa anggota (polisi, Red),” kata Kapolrestabes Surabaya Kombespol Johnny Eddizon Isir.

Menurut dia, sabetan sajam pelaku sempat mengenai salah seorang personel yang melakukan penangkapan. Lengan kirinya tersayat ketika menangkis serangan tersebut. Dia pun harus mendapat lima jahitan. ”Diskresi kepolisian harus diambil karena memang sangat diperlukan,” tutur peraih Adhi Makayasa atau lulusan terbaik Akpol 1996 tersebut.

Isir menyatakan, kedua tersangka sempat dibawa ke RSUD dr Soetomo untuk memperoleh perawatan medis. Namun, nyawa mereka sudah melayang dalam perjalanan. ”Tindakan tegas ini juga menjadi warning bagi sindikat lain untuk tidak coba-coba bermain di kota ini,” tegas polisi dengan tiga melati di pundak tersebut.

Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian mengungkapkan, dua tersangka yang tewas sudah berpengalaman mengedarkan barang haram. Mereka punya sepak terjang yang panjang sebagai pengedar. Keberadaan mereka kemudian terendus jajarannya ketika hendak melakukan transaksi.

Berdasar penyelidikan, keduanya menginap di sebuah hotel. Setelah mengetahui lokasi dan kamar tempat para tersangka menginap, polisi lantas menggerebek hotel tersebut. Namun, mereka ternyata sudah menyiapkan peralatan untuk melawan. ”Mendadak, salah seorang bandar mengeluarkan parang dari dalam tas,” ungkap alumnus Akpol 2002 tersebut.

Dua tersangka yang tewas adalah Nur Kholis, 41, dan Riki Rinaldo, 22. Dalam penggerebekan itu, polisi menemukan puluhan kantong paket sabu-sabu (SS). Berat total bungkusan barang terlarang tersebut mencapai 20 kilogram.

Dalam penggerebekan itu, polisi tidak hanya menangkap Nur Kholis dan Riki. Di lokasi juga ada pengedar lain. Yakni, Agus Hariyanto. Nama terakhir bernasib lebih baik. Dia hanya dilumpuhkan agar tidak melarikan diri. Betis kakinya ditembak.

Nur Kholis dan Riki merupakan korban keempat dan kelima tindak tegas kepolisian dalam kurun waktu kurang dari tujuh pekan terakhir. Terhitung sejak 5 Agustus. Pada 5 Agustus lalu, tersangka Vicky Vendy mengembuskan napas terakhir setelah ditembak petugas. Begitu pula Dika Putranto (1/9) dan Fajar Rizky (12/9). Dari hasil pengembangan pengusutan kasus, ternyata seluruh pelaku yang tewas tersebut masih berkaitan dengan jaringan peredaran yang sama.

Memo menambahkan, pihaknya sudah memetakan sindikat mereka untuk pengembangan. Jajarannya kini memburu beberapa nama lagi yang diduga masih terkait dengan dua nama yang sudah dikirim ke akhirat. Untuk sementara, dia menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga orang yang dikejar.


Mantan Kasatreskrim Polresta Barelang, Kepulauan Riau, itu memastikan salah seorang buron yang diburu adalah bandar besar. Dia ditengarai mendapat pasokan langsung dari sindikat narkoba yang berasal dari luar negeri. ”Kami kembangkan terus jaringan sindikatnya,” ujarnya.

Dia menuturkan, kondisi personelnya yang terkena sabetan sudah berangsur membaik. Si petugas langsung mendapat penanganan medis setelah para tersangka berhasil dilumpuhkan. ”Mohon doanya agar lekas pulih,” tandasnya.

Komplotan Penyuplai Bandar Fajar


Dua bandar narkoba yang tewas ditembak polisi punya keterkaitan dengan pengungkapan sebelumnya. Nur Kholis dan Riki Rinaldo adalah komplotan penyuplai sabu-sabu (SS) kepada Fajar, bandar yang juga tewas karena ditembus timah panas polisi pada Sabtu malam (12/9). ”Hasil pengembangan kami mengarah kepada keduanya (Nur Kholis dan Riki, Red),” kata Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Fajar adalah bandar pengendali sindikat antarkota. Jaringannya luas di berbagai kota. Dari apartemen yang dijadikan gudang penyimpanan narkoba oleh Fajar, polisi menemukan 29 kilogram SS dan 14.700 butir pil ekstasi. Pelaku juga ditembak karena berusaha menyerang polisi dengan parang. Fajar, kata Memo, adalah bandar level ketiga. Kelasnya satu tingkat di bawah dua tersangka yang ditembak mati. ”Mereka masih satu rangkaian,” jelasnya.

Memo memaparkan, sindikat yang terbongkar tidak hanya menjual sabu-sabu (SS). Tetapi juga pil ekstasi. Kelompoknya pun bukan pengedar skala lokal. ”Wilayah peredarannya lintas provinsi,” ujar polisi dengan dua melati di pundak tersebut.

Bahkan, lanjutnya, pemesan narkoba diduga bukan hanya sindikat di beberapa kota. Memo menduga pembeli mereka adalah narapidana (napi) yang masih mendekam di lembaga pemasyarakatan. ”Indikasinya sedang kami dalami. Tetapi, memang ada gambaran sebagai penyuplai napi,” paparnya.

Memo menegaskan, genderang perang terhadap peredaran narkoba akan terus ditabuh korps baju cokelat. Untuk membongkar habis sindikat kasus yang terungkap, pihaknya mengajak banyak pihak. Bahkan, yang terbaru, lembaga internasional sampai dilibatkan. Yakni, Drug Enforcement Administration (DEA), penegak hukum antinarkoba Amerika Serikat (AS).

Menurut dia, koordinasi itu diperlukan karena adanya indikasi sindikat internasional dari kasus yang terungkap. Hanya, dia masih memilih merahasiakan detail jaringan yang ditengarai terlibat tersebut. ”Yang pasti, di balik semua ini, ada jaringan besar,” ungkapnya.

Memo menyebut sindikat narkoba seperti sebuah pohon. Jaringannya ibarat ranting-ranting pohon itu. Mereka punya keterkaitan satu sama lain meski tidak pernah kenal secara langsung. ”Target utama penindakan adalah ’pohon’ yang menjadi pemasok dari semua sindikat narkoba,” tandasnya.

TUJUH PEKAN, LIMA BANDAR TEWAS DIDOR

Peringatan keras bagi pengedar yang bermain di Kota Pahlawan. Jajaran Polrestabes Surabaya tak segan memuntahkan peluru bagi bandar yang melawan. Berikut daftar pengedar yang ditembak mati sejak Agustus:

Vicki Vendy (ditembak 5 Agustus)

Barang bukti:

- 2 kilogram sabu-sabu

- senjata api rakitan

Dika Putranto (ditembak 1 September)

Barang bukti:

- 9 kilogram sabu-sabu

- senjata tajam jenis parang

- senjata api rakitan

Fajar Rizky (ditembak 12 September)

Barang bukti:

- 29 kilogram sabu-sabu

- 14.700 butir pil ekstasi

- senjata tajam jenis parang

Nur Kholis dan Riki Rinaldo (ditembak dini hari 21 September)

Barang bukti:

- 20 kilogram sabu-sabu

- senjata tajam jenis parang

Keterangan: Lima bandar yang ditembak mati sejak Agustus berasal dari sindikat yang sama. Jaringannya berkaitan satu sama lain.

Sumber: Satresnarkoba Polrestabes Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=HjXaLZHzKq8

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore