
Pedagang minyak goreng curah di Pasar Wonokromo. Dipta Wahyu/JawaPos
JawaPos.com- Kelangkaan minyak goreng masih terjadi. Belakangan minyak goreng curah sulit ditemukan di pasar. Di antaranya, Pasar Wonokromo dan Pasar Genteng Surabaya.
Pengelola pasar berusaha memenuhi permintaan konsumen melalui kerja sama dengan pemerintah. Kerja sama dalam bentuk operasi pasar murah diharapkan bisa lebih rutin dilakukan dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama.
Kepala Pasar Wonokromo Ketut Suko Prayitno mengungkapkan bahwa operasi pasar sudah dilakukan di pasarnya beberapa kali. Namun, jumlah pedagang yang cukup banyak dan permintaan konsumen yang tinggi membuat stok minyak cepat habis.
Ribuan liter minyak yang disediakan dalam operasi pasar habis dalam hitungan hari. ’’Kemarin saja, 5.000 liter minyak habis sekitar lima hari sampai satu minggu,’’ jelasnya kemarin (21/3).
Ketut menuturkan, pedagang mulai kesulitan untuk membeli minyak curah. Sebab, ketersediaan di tengkulak pun menipis. Padahal, konsumen di Pasar Wonokromo biasanya membutuhkan minyak dalam jumlah banyak untuk keperluan usaha. Misalnya, berdagang gorengan dan makanan. Karena itu, yang cenderung dicari di pasar tersebut adalah minyak goreng curah ketimbang minyak goreng refill.
Karena kelangkaan tersebut, harga minyak curah ikut meroket. Dalam kondisi normal, minyak goreng curah dibanderol Rp 12 ribu–Rp 13 ribu per liter. Pemerintah pun menetapkan harga eceran tertinggi Rp 14 ribu per liter.
Namun, saat ini harga minyak curah bisa menyentuh angka Rp 20 ribu–Rp 24 ribu per liter. ’’Harganya bisa kondusif jika ada operasi pasar, tetapi paling tidak harus suplai lagi lima hari sampai seminggu. Kalau lambat, nanti pedagang harus ambil dari luar lagi dan harga naik lagi,’’ lanjut Ketut.
Sementara itu, di Pasar Genteng, jumlah pedagang yang berjualan minyak curah tidak sebanyak pasar-pasar tradisional lain. Kepala Pasar Genteng Koencoro menyebutkan, hanya sekitar sepuluh pedagang yang menjual minyak curah. ’’Hari ini (kemarin) cuma empat pedagang yang berjualan,’’ tuturnya.
Dibandingkan pasar-pasar tradisional lain, Koencoro mengakui bahwa kelangkaan minyak curah di pasarnya tidak terlalu berpengaruh signifikan bagi konsumen. Sebab, rata-rata konsumen di sana berasal dari kalangan menengah ke atas dan lebih memilih minyak kemasan atau refill. Selain itu, Koencoro menyebutkan bahwa subsidi minyak di pasarnya dihentikan sejak Kamis pekan lalu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022