
Para pekerja memeriksa oncom yang siap di jual, Senin, Jakarta (21/2/2022). Dampak para pekerja pembuat tempe dan tahu di Jabodetabek melakukan aksi mogok produksi membuat para pengusaha oncom terancam tidak produksi. Aksi mogok ini imbas dari harga kedel
JawaPos.com–Dinas Perdagangan Kota Surabaya mulai melakukan sosialisasi kenaikan harga tempe dan tahu pada masyarakat. Hal itu dilakukan karena pasokan minim.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Surabaya Fauzie Mustaqiem Yos mengatakan, hal itu harus dilakukan supaya masyarakat tahu bahwa suatu saat, harga tempe dan tahu akan naik. Sebab, bahan baku produksinya kosong.
”Kami akan sosialisasi begitu. Biasanya tempe 5 cm harga Rp 1.000. Nah, sekarang 4 cm Rp 1.000. Teman-teman perajin nggak mengurangi harga tapi ukuran dikurangi. Jadi kami akan sosialisasi bahwa ada harga naik,” kata Yos pada Selasa (22/2).
Yos menyatakan, saat ini, perajin tempe dan tahu sedang melakukan mogok kerja. Sebab, harga kedelai naik.
Dia mengaku berat membicarakan hal itu. ”Kalau memang teman-teman (perajin tahu tempe) mogok itu karena bahan bakunya dari luar (negeri) itu langka dan belum datang,” ujar Yos.
Kedelai, bahan baku tahu dan tempe yang digunakan perajin bergantung impor. Otomatis, Disdag tidak bisa banyak berbuat.
”Agak berat jawabnya. Ini kedelai tergantung impor. Murni 94 persen (impor). Nggak bisa ngapa-ngapain karena harganya semua dari sana,” terang Yos.
Seluruh harga kedelai, lanjut Yos, bergantung pada stok kedelai impor. Mulai dari harga jual, ketersediaan, dan distribusi dipengaruhi fluktuasi harga kedelai impor.
Sementara, persediaan dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. ”Kami akan sosialisasikan kenaikan harga,” ujar Yos.
Saat ini, harga kedelai per kilogram mencapai Rp 10.300. Kini sedang berkomunikasi dengan importir untuk segera membeli bahan baku.
”Saya coba ke importir, wis tukuo piro nanti lak dibeli (sudah beli saja berapa nanti pasti dibeli). Karena orang Surabaya kalau nggak makan tempe tahu ya nggak marem to (puas kan)? Wis belio (sudah beli saja) harganya berapapun, nanti kita tetap beli kok,” ungkap Yos.
Yos menyebut Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jatim, serta pemerintah pusat akan mengadakan sosialisasi. Selain menyosialisasikan harga tempe dan tahu akan naik, juga akan sosialisasi bahwa kedelai adalah barang impor bukan dari Indonesia.
”Kalau mau demo karena harga kedelai mahal dan berhenti produksi, nanti kita coba bilang bahwa importir akan beli. Karena harga tinggi. Tapi pasti laku dibeli warga Indonesia. Kita fokus jangan sampai perajin berhenti,” ucap Yos.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
