
Ilustrasi memerangi virus Korona (Adnan Reza Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com – Tidak salah jika Gubernur Khofifah Indar Parawansa memberikan atensi khusus terhadap upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Sebab, jumlah warga Jatim yang terdampak situasi tersebut cukup tinggi.
Cukup banyak sektor usaha yang lumpuh. Tak hanya itu, diperkirakan 3 juta warga kehilangan pekerjaan/mata pencaharian lantaran pandemi. Berbagai upaya kini digulirkan. Pelatihan hingga bantuan digelontorkan untuk mengurangi dampaknya.
Berdasar data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim pada triwulan pertama 2021, tercatat sekitar 3 juta warga mengalami berbagai permasalahan seputar lapangan pekerjaan. Paling banyak adalah pekerja yang mengalami pengurangan jam kerja lantaran aktivitas usaha mengendur. Berikutnya, mereka diberhentikan dari tempat kerja (selengkapnya lihat grafis).
Kabid Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim Sunarya menjabarkan, problem pelik seputar lapangan kerja terjadi secara nasional. Pandemi menggebuk semua sektor dan berdampak pada angka pengangguran bagi pekerja. ’’Laporan yang masuk ke Disnakertrans Jatim dari beberapa daerah mencatatkan ada 51 ribu pekerja yang di- PHK dan dirumahkan,’’ katanya kemarin.
Sektor formal seperti jasa dan pariwisata paling terpukul. Sektor itu tidak bisa beroperasi selama pandemi. Sebagaimana bidang perhotelan yang tak mendapatkan tamu. Kondisi itu memaksa mereka menutup sebagian operasional. Termasuk mengurangi karyawannya.
Sejauh ini, sejumlah solusi sudah diberikan. Pemerintah pusat telah memberikan kartu peserta dan subsidi upah bagi pekerja yang terdampak pandemi. Sementara itu, Disnakertrans Jatim sudah memberikan program berbagai pelatihan bagi pekerja terdampak. Di antaranya, di balai latihan kerja (BLK) yang tersebar di 16 UPT di Jatim.
Selain itu, selama ini Disnakertrans Jatim telah menyurati perusahaan untuk tetap bertahan dan beroperasi selama pandemi. Juga mempertahankan para karyawan agar tetap bekerja dan tak di-PHK.
Terkait dengan kebijakan sejumlah perusahaan merumahkan karyawan, disnaker juga mengimbau perusahaan tetap mempekerjakan kembali mereka setelah pandemi berangsur membaik. Agar tidak terjadi penumpukan pengangguran baru di Jatim. ’’Yang akan berdampak pada sektor ekonomi masyarakat,’’ katanya.
Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Dwi Cahyono membenarkan situasi terkini yang terjadi di sektor jasa. Khususnya di perhotelan dan restoran. Akibat pandemi yang diiringi dengan penerapan kebijakan pembatasan aktivitas ekonomi, okupansinya sangat rendah. Yang membuat pemasukan dan pengeluaran tak seimbang. ’’Tapi, kami pastikan tak mengambil opsi PHK karyawan,’’ terangnya.
Pengusaha memilih opsi merumahkan para karyawan. Skema itu juga atas permintaan karyawan. Jika situasi normal, mereka akan dipekerjakan lagi. Opsi itu dipilih karena pengusaha yakin karyawan mereka lebih punya skill dan pengalaman dalam melayani pelanggan. Dibandingkan pekerja baru yang harus membutuhkan banyak penyesuaian.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
