Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 November 2020 | 04.13 WIB

Resmikan LSP, ITS Berharap Lulusan Sinkron dengan Kebutuhan Industri

Prosesi peluncuran Lembaga Sertifikasi Profesi untuk Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com - Image

Prosesi peluncuran Lembaga Sertifikasi Profesi untuk Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com

JawaPos.com–Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Kolaborasi keduanya diharapkan mampu mengembangkan skema uji kompetensi bagi lulusan pendidikan vokasi. Lulusan disiapkan sejak dini agar sesuai permintaan industri. Skema itu menjadi referensi bagi peserta didik pendidikan vokasi untuk dilakukan assessment.

”Sehingga ketika lulus mereka memiliki sertifikat kompetensi, yaitu pengakuan telah berkompetensi,” ujar Quality Management Representative LSP ITS Hendro Nurhadi.

Hendro mengatakan, terdapat tiga jenis skema uji kompetensi di LSP ITS. Yakni jenis klaster, okupasi, dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dari ketiganya, industri paling menghendaki uji kompetensi jenis KKNI.

”Sebab, keahlian menjadi hak utama,” ujar Hendro Nurhadi, yang jadi CEO PUI MIA ITS (Pusat Unggulan IPTEK Mechatronics and Industrial Automation) itu.

Dia menyebut, sejak 2020, ITS mengembangkan skema hibah dari Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dit. Mitras DUDI). DUDI berada di bawah Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud.

LSP ITS memberikan uji kompetensi sehingga lulusan mendapatkan sertifikasi, baik di KKNI level 4 untuk jenjang pendidikan D3 ataupun KKNI level 5 dan 6 untuk jenjang D4.

”kami mengembangkan 17 skema. Namun, kebutuhan skema itu bertambah menjadi 18, 19, hingga akhirnya muncul usul skema menjadi 20 untuk bidang konstruksi,” papar Hendro Nurhadi.

Tidak hanya program dari Kemendikbud, LSP ITS juga mengembangkan skema secara mandiri untuk bidang prioritas lain. Salah satunya permesinan. LSP ITS bisa mengusulkan lebih dari 30 skema baru dari tiga skema yang sudah ada.

Dalam praktiknya, lanjut Hendro Nurhadi, pihaknya menemui beberapa kendala. Salah satunya sulit menyamakan kondisi dengan berbagai perguruan tinggi vokasi di Indonesia.

”Harapan kami seiring dengan berjalannya waktu akan ada penyesuaian beriring dengan teknologi di bidang konstruksi,” kata Hendro Nurhadi.

Meski begitu, dia bersyukur karena sejak awal BNSP telah digandeng sehingga skema yang sudah dijadikan draf bersama mitra lain bisa langsung terverifikasi dan ujungnya mendapat lisensi. ”Skema tersebut kami membuat lulusan pendidikan vokasi akan lebih sepadan dengan kebutuhan industri saat ini. Dengan tantangan zaman saat ini,” kata Hendro Nurhadi.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/VLxE3IosSiA

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore