
Sejumlah penderita hepatitis A menjalani rawat inap di lobi Puskesmas Sudimoro /Radar Madiun
JawaPos.com - Biang keladi wabah hepatitis A di Pacitan mulai terungkap. Berdasar pemeriksaan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, penyakit itu diduga kuat bersumber dari air Sungai Sukorejo yang tercemar.
''Dalam satu kejadian persebaran penyakit itu terdapat tiga unsur. Agent, host, dan environment,'' jelas Kepala Dinkes Pacitan Eko Budiono kepada Jawa Pos Radar Pacitan kemarin (2/7).
Dia menerangkan satu per satu tiga unsur tersebut. Agent adalah jenis virus hepatitis tipe A. Host adalah manusianya. Environment berarti lingkungan. ''Setelah dicari, ketemunya di salah satu sumber air. Kami dan dinkes provinsi bersama Kemenkes menemukan sumbernya (Sungai Sukorejo, Red),'' kata Eko.
Temuan itu juga dibuktikan dengan pola sebaran penderita hepatitis A. Untuk 409 penderita yang muncul saat ledakan kasus pada pekan ke-25, masa inkubasinya membentuk gambaran pola persebaran atau kurva epidemiologis common source. Pola persebarannya terpusat di satu sumber, yakni seputar Sungai Sukorejo. ''Bukan propagated atau putus-putus yang menandakan dari orang ke orang,'' ujarnya.
Photo
Relawan pemberantasan hepatitis A membagikan masker dan antiseptik di Terminal Bus Tipe A Pacitan kemarin (2/7). (SUGENG DWI/Jawa Pos Radar Madiun)
Pihaknya juga melakukan uji laboratorium. Namun, hal itu tidak bisa mengetahui apakah air sungai menjadi penyebab hepatitis A atau bukan. Pemeriksaan sekadar mengetahui kualitas air. Termasuk ada tidaknya bakteri Escherichia coli (E-coli). Sementara itu, bakteri memiliki batas normal yang layak dikonsumsi. ''Dari hasil pemeriksaan sumber itu, batasan E-coli-nya naik sepuluh kali lipat dari normal. Artinya, sumber air tersebut tercemar kotoran manusia,'' jelasnya.
Parahnya, air sungai tersebut dijadikan sumber air minum dan mengolah makanan. Untuk bahan makanan, salah satunya adalah pembuatan janggelan. Meski dimasak, kandungan virus hepatitis A di panganan yang biasa dijadikan sajian berbuka saat Ramadan tersebut belum sepenuhnya mati. ''Masakan itu dimakan manusia. Terinfeksilah manusia,'' terangnya.
Yang lebih parah, sumber air tersebut diedarkan ke sejumlah daerah di sekitarnya. Per tangki dijual Rp 15 ribu. Pihaknya tidak bisa melarang penjualan air tersebut. Alasannya, masyarakat membutuhkan air saat kemarau ini. Eko mewanti-wanti agar air tersebut dikaporit lebih dulu. Ditunggu dua hari sebelum digunakan. Selama menunggu, warga bisa memanfaatkan dropping air bersih.
''Satu sisi memang mampu memenuhi kebutuhan air, tapi satu sisi lain justru menyebarkan virus hepatitis A,'' ungkapnya.
Mengenai usaha pembuatan janggelan dan pengolahan makanan yang menggunakan air sungai, Eko menyatakan, pihaknya tidak bisa menutup paksa atau memberikan tempat usaha yang aman. Pihaknya sekadar melakukan penyuluhan. ''Memasak air harus yang higienis. Setelah dididihkan, dibiarkan dulu 3-5 menit, baru digunakan untuk mengolah,'' terangnya.
Dia menyebut air Sungai Sukorejo tersebut dimanfaatkan lebih dari lima desa di sekitarnya. Dia belum bisa membeberkan desa mana saja.
Dari informasi yang dihimpun humas Pemkab Pacitan, jumlah kasus baru dan pasien hepatitis A yang dirawat terus menurun. Hingga kemarin siang tidak ada kasus baru. Pasien yang dirawat tersisa 17 orang. Yaitu, 5 orang di Puskesmas Ngadirojo, 8 orang di Puskesmas Sukorejo, serta masing-masing 1 orang di Puskesmas Bandar, Tulakan, Arjosari, dan Tegalombo.
Sebagaimana diketahui, ratusan warga Pacitan terserang virus hepatitis A secara mendadak. Berdasar data terakhir, hampir seribu orang terjangkit virus tersebut. Karena banyaknya pasien, Pemkab Pacitan akhirnya menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) sejak Senin pekan lalu.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menginstruksi jajarannya memeriksa kualitas sumber-sumber air yang dimanfaatkan masyarakat. "Sudah kami komunikasikan dengan dinas-dinas supaya diperiksa kecukupan dan kualitas air bersihnya," kata dia di gedung DPRD Jatim kemarin.
Khofifah juga menginstruksikan agar distribusi air bersih ke daerah-daerah rawan dimaksimalkan. Bukan hanya kepada jajarannya, ketua umum PP Muslimat NU itu juga mengajak seluruh stakeholder ikut membantu penyediaan air bersih.
Khofifah juga sudah meminta jajarannya mempercepat penanganan penderita hepatitis. Salah satu langkahnya ialah memaksimalkan layanan di puskesmas. "Awalnya sempat meluas. Saat ini sudah mulai berkurang," katanya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
