
Ilustrasi perhiasan emas. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com-Perubahan perilaku pembeli emas dalam beberapa tahun terakhir mulai terasa di pasar perhiasan. Kenaikan harga emas global membuat konsumen di Surabaya semakin selektif, sementara generasi muda mendorong selera dan tren desain ke arah yang lebih ringan, simpel, dan fashionable.
Fenomena ini dirasakan langsung oleh Bokor Mas Gold, toko perhiasan yang sudah berdiri sejak 1978 dan kini membuka cabang ketujuh di Food Junction Surabaya Barat. Ekspansi ini dilakukan sekaligus untuk membaca ulang peta konsumsi emas di kawasan dengan karakter pembeli yang lebih muda dan dinamis.
“Sekarang perhiasan yang berat sudah tidak seperti dulu peminatnya. Konsumen memilih yang lebih ringan, tapi kelihatan besar dan tetap fashionable. Ini menyesuaikan kondisi keuangan dan kebutuhan mereka,” ujar owner Bokor Mas Gold, Ivana Wicahyati.
Ivana menyebut pergeseran pola konsumsi bukan hanya soal estetika, tetapi juga cara konsumen membuat keputusan. Generasi baru datang dengan pengetahuan lebih kuat soal harga, kualitas, hingga nilai investasi. “Sekarang generasinya semakin melek informasi. Kita harus transparan, tidak hanya bicara kelebihan emas, tapi juga kekurangannya. Mereka harus bisa memutuskan dengan nyaman,” katanya.
Menurut Ivana, transparansi menjadi tuntutan baru yang tidak bisa dihindari. Pelaku usaha wajib memberi edukasi terlebih dahulu, bukan sekadar menjual.
Sebagai brand lama yang sudah berjalan hampir lima dekade, Bokor Mas Gold mengakui pola bisnis konvensional tak lagi cukup. Tidak bisa lagi hanya mengandalkan toko fisik dan pelanggan tetap. “Sekarang tidak bisa seperti zaman dulu, buka toko dan menunggu pelanggan datang. Kita harus jemput bola lewat media sosial, pameran, dan event,” ujarnya.
Desain pun ikut menyesuaikan perilaku konsumsi baru. Selera generasi muda yang banyak dipengaruhi media sosial dan idol K-pop membuat model simpel dan elegan lebih dicari. “Yang penting modelnya kecil, simpel, elegan, dan tidak berat. Itu yang paling ramai sekarang,” kata Ivana.
Sementara di tengah perubahan perilaku pembeli, toko perhiasan dituntut tetap menjaga pelayanan. Ivana menyebut pendekatan pelayanan kini menjadi pembeda utama.“Pembeli harus merasa seperti keluarga. Mereka bebas bertanya apa pun, dan kita harus jujur menjelaskan,” ujarnya.
Pembukaan cabang baru di Food Junction juga diwarnai kehadiran DJ Panda sebagai brand ambassador. Selain menarik perhatian pengunjung, Ivana melihat kolaborasi dengan figur pop ini sebagai bagian dari strategi membaca pasar generasi muda, yang kini menjadi motor baru konsumsi perhiasan.
Dengan tren desain ringan yang semakin dominan dan konsumen yang semakin kritis, peta bisnis emas di Surabaya pun ikut bergeser. Pelaku usaha dituntut bergerak cepat, mengikuti ritme pasar yang kini lebih responsif terhadap tren, informasi, dan gaya hidup. (*)

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
