
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau warga untuk tidak bakar sampah dan kurangi pemakaian plastik setelah ada temuan mikroplastik dalam air hujan. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi buka suara soal temuan mikroplastik dalam air hujan, yang diungkap oleh peneliti dan aktivis lingkungan. Temuan ini juga membuat publik resah dan menuntut langkah cepat pemerintah.
Menurutnya, fenomena air hujan mengandung mikroplastik sangat erat kaitannya dengan permasalahan sampah, khususnya kebiasaan membakar sampah di ruang terbuka dan penggunaan plastik secara berlebihan.
“Kalau hujan mikroplastik itu kan terkait dengan sampah dan lain-lainnya. Maka saya minta warga Surabaya yang menjaga. Kalau ada tetangga membakar plastik atau sampah, ya dilarang,” tutur Eri di Surabaya, Rabu (26/11).
Ia mengajak warga Surabaya lebih peduli pada kondisi lingkungan. Menurut Eri, menjaga kebersihan kota adalah tanggung jawab bersama demi masa depan anak cucu yang lebih aman dan sehat.
“Ini dampaknya akan ke anak cucu kita. Maka bagaimana mencegah mikroplastik itu adalah ketika pembakaran sampah. Faktor-faktornya kan seperti itu, maka itu penggunaan plastik dikurangi,” imbuhnya.
Baca Juga: 7 Tanda Awal Alzheimer yang Sering Dianggap Remeh, Jangan Tunggu Sampai Terlambat!
Wali Kota Eri mengatakan bahwa sejatinya Pemkot telah mengeluarkan regulasi, dalam hal ini Perwali Nomor 16 Tahun 2022 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik di Kota Surabaya.
“Pemerintah itu (sudah) mengeluarkan larangan penggunaan kantong plastik, tas-tas kresek plastik, tetapi kalau warga masih tetap memakai plastik ya sama saja. Maka saya berharap kesadaran warga," seru Eri.
Terakhir, ia meminta warga untuk berani menegur atau melapor saat menemukan pelanggaran lingkungan, seperti pembakaran sampah di ruang terbuka atau penggunaan plastik berlebihan.
“Kalau ada yang bakar sampah, ya tegur, matikan (apinya). Begitu pula, jika ada yang membawa kantong plastik, ya diingatkan. Kita harus berani mengingatkan dan melarang demi (masa depan) anak cucu kita," tukasnya.
Sebagai informasi, hasil riset yang dilakukan Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton, menempatkan Surabaya di posisi ke-6 dengan kontaminasi 12 partikel per 90 cm² per 2 jam.
Penelitian tersebut dilakukan selama 11-14 Nopember 2025 di 7 lokasi, yakni kawasan Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.
Pada lima lokasi tersebut, peneliti menempatkan wadah aluminium, steinless Steel dan wadah mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam.
Dari grafik hasil penelitian, wilayah di Surabaya yang paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan 356 partikel mikroplastik per liter, disusul Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309 PM/ liter.
Kemudian HR Muhammad dengan 135 PM/ liter, Wonokromo dengan 77 PM/ liter, Gununganyar dengan 66 PM per liter, Ketintang dengan 48 PM/ liter, dan Dharmahusada dengan 24 PM per liter.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
