
Ilustrasi Kota Surabaya. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
JawaPos.com - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur menilai cuaca panas ekstrem di Surabaya yang belakangan dikeluhkan masyarakat, bukan semata fenomena alam. Melainkan akibat kegagalan tata ruang.
Ketua Walhi Jatim Wahyu Eka Setyawan menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya gagal melakukan tata ruang, sehingga membuat adaptasi iklim melemah dan emisi karbon di perkotaan justru bertambah.
"Kota ini telah kehilangan fungsi ekologisnya karena dikonstruksi sebagai ruang ekonomi tanpa batas. Surabaya perlu segera memperkuat adaptasi iklim berbasis tata ruang ekologis," ujar Eka kepada JawaPos.com, Jumat (24/10).
Di antaranya dengan melakukan moratorium izin alih fungsi lahan hijau. Pemkot Surabaya juga harus berani menekan emisi dari sektor transportasi serta industri melalui transisi energi bersih yang adil.
Merujuk pada penelitian Syafitri, Pamungkas, dan Santoso (2021) dari ITS, Kota Surabaya berpotensi tinggi terhadap peningkatan suhu permukaan. Terutama pada kawasan Surabaya Timur (pesisir).
Konfigurasi tata ruang kota menunjukkan wilayah dengan kepadatan bangunan tinggi dan minim vegetasi (ruang hijau) memiliki perbedaan suhu permukaan mencapai 1,59° Celsius dibandingkan kawasan pinggiran.
Fenomena ini disebut Urban Heat Island (UHI), yakni suhu udara di perkotaan lebih panas dibanding pedesaan. Artinya, adaptasi iklim di Surabaya belum mempertimbangkan konfigurasi tata ruang kota secara spasial.
"Padahal mengubah bentuk kota yang telah terbangun akan jauh lebih sulit dan mahal. Kami dari Walhi menegaskan bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan, karena ia sudah terjadi dan Surabaya adalah buktinya," jelas Eka.
Hasil observasi dan pemantauan Walhi Jawa Timur melalui citra satelit dan survei lapangan selama dua dekade terakhir (2002 - 2023) juga menunjukkan tren yang serupa.
Terdapat alih fungsi ruang terbuka hijau, berupa pembangunan masif kawasan permukiman dan perumahan baru.
Ruang-ruang yang seharusnya menjadi area resapan air kini justru menjadi kawasan ekonomi padat ruang.
"Ini banyak terjadi di Surabaya Barat dan area Timur kota. Berkurangnya area resapan berdampak langsung pada meningkatnya suhu permukaan di wilayah yang mengalami alih fungsi dan padat bangunan," terangnya.
Meski Pemkot Surabaya mengklaim telah menanganinya dengan menanam pohon dan memperbanyak taman kota, tetapi alih fungsi masih masif terjadi, dan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan suhu ekstrem.
"Jika kota ini ingin tetap layak huni, maka kebijakan pembangunan harus berpihak pada daya dukung lingkungan, bukan pada laju betonisasi yang mempercepat pemanasan dan mempersempit ruang hidup," pungkas Eka.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Feyenoord vs AZ Alkmaar: Sama-Sama Produktif, Laga Berpotensi Imbang
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak
Prediksi Skor Barcelona vs Getafe di Liga Spanyol: Blaugrana Pesta Gol di Camp Nou
Prediksi Susunan Pemain Como vs AS Roma: Fabregas Siapkan Taktik Subbuteo
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022