Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 Oktober 2025, 13.32 WIB

Menko PMK Pratikno Jenguk dan Berikan Bantuan 5 Korban Robohnya Musala Ponpes Al Khoziny di RSUD RT Notopuro Sidoarjo

Menko PMK Pratikno saat menjenguk korban di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com) - Image

Menko PMK Pratikno saat menjenguk korban di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

JawaPos.com — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menjenguk lima korban selamat robohnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo pada Kamis (2/10/2025). Para korban berhasil dievakuasi setelah tiga hari pencarian manual yang penuh tantangan.

Pratikno tiba di ruang rawat sekitar pukul 12.57 WIB dan langsung menemui para korban serta keluarganya. Kehadirannya disusul oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang datang pukul 13.05 WIB.

Dalam kunjungannya, Pratikno menyerahkan bantuan berupa amplop kepada keluarga korban sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat.

Khofifah juga melakukan hal yang sama kepada masing-masing keluarga korban yang menunggu di rumah sakit.

Pratikno menyampaikan rasa syukur karena lima santri dapat ditemukan dalam keadaan selamat meski tertimpa reruntuhan bangunan musala.

Ia menegaskan pencarian selama tiga hari dilakukan dengan sangat hati-hati karena kondisi bangunan yang rapuh.

Menurutnya, upaya penyelamatan sebelumnya hanya bisa dilakukan secara manual agar tidak menimbulkan risiko tambahan.

Namun setelah berkoordinasi dengan pihak keluarga dan tim lapangan, proses pembersihan mulai dilakukan menggunakan alat berat.

“Setelah tiga hari pencarian manual, hari ini mulai dilakukan pembersihan dengan alat. Prosesnya panjang dan harus hati-hati,” kata Pratikno usai menengok korban di RSUD RT Notopuro, Kamis (2/10/2025).

Sementara itu, Gubernur Khofifah juga mengaku lega karena lima korban bisa dievakuasi dengan selamat. Ia menegaskan penggunaan alat berat sudah mendapat persetujuan dari wali santri dan tim teknis.

Menurut Khofifah, pemakaian alat berat tidak bisa dilakukan sembarangan karena kondisi bangunan masih labil. Ada potensi pergerakan dan penurunan struktur yang bisa membahayakan keselamatan tim penyelamat.

“Jadi harus sangat hati-hati sekali. Beberapa bagian akan diambil dengan crane agar tidak mengganggu kestabilan bangunan,” ujar Khofifah.

Dalam proses ini, pemerintah daerah menggandeng tim teknik konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Para ahli tersebut bertugas mengawasi dan memberi masukan teknis saat alat berat digunakan di lokasi runtuhan.

Selain itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur juga siaga di lokasi maupun di rumah sakit. Tim ini melakukan tes DNA terhadap para korban dan keluarga untuk mengantisipasi bila ditemukan korban lain.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore