
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menanggapi arahan Mendagri, Tito Karnavian soal flexing atau gaya hidup mewah. (Humas Pemkot Surabaya)
JawaPos.com - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menanggapi arahan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, yang meminta pejabat publik untuk tidak melakukan flexing alias memamerkan harta atau gaya hidup mewah.
Arahan ini disampaikan Mendagri sebagai respons atas gangguan keamanan yang terjadi di masyarakat, di mana gelombang aksi demonstrasi semakin meluas ke beberapa di daerah di Indonesia.
"Dari dulu ada kah? Nggak ada pejabat publik di Surabaya yang flexing. Ya dari dulu modelnya begini," tutur Eri di Kompleks Balai Kota Surabaya, Kamis (4/9) sambil menunjukkan gaya busananya yang sederhana.
Begitu pula dengan kegiatan pribadi. Orang nomor satu di Kota Surabaya itu memastikan tidak ada anak buahnya yang menggelar acara berlebihan. Baik dalam ruang lingkup Pemkot Surabaya maupun pribadi.
"Yang kedua, mulai saya menjabat Wali Kota sampai hari ini, saya tidak pernah menganggarkan untuk perjalanan (dinas) ke luar negeri," imbuhnya.
Menurut Eri, masih ada permasalahan di masyarakat yang harus segera dituntaskan, daripada menganggarkan perjalanan ke luar negeri. Ia mencontohkan kasus gizi buruk atau stunting dan kemiskinan.
"Tetapi ada undangan ya silakan, seperti kemarin, kita mewakili Indonesia di Bloomberg (Surabaya masuk 50 besar ajang Internasional Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge, New York), ya silakan, karena itu dibayari oleh penyelenggara," terang Eri.
Dalam ajang tersebut, Pemkot Surabaya memberangkatkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dedik Irianto dan Kepala Bappedalitbang Surabaya, Irvan Wahyudrajad. Semua biaya perjalanan dinas dibiayai oleh penyelenggara.
"Ya seperti, jadi nggak pakai APBD. Ini bukti keberhasilan kita menjadi yang terbaik, mewakili Indonesia di ajang dunia. Jadi nanti insya Allah kalau lolos 25 kita akan dikumpulkan lagi untuk di New York," seru Eri.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengingatkan seluruh pejabat negara dan keluarganya untuk tidak memamerkan gaya hidup mewah di tengah maraknya aksi unjuk rasa.
“Situasi saat ini sangat sensitif. Jadi baik HUT daerah maupun kegiatan seremonial kedinasan lainnya, sebaiknya digelar sederhana. Misalnya dengan tumpengan atau memberi santunan yatim piatu. Itu jauh lebih bermanfaat,” ujar Tito di Jakarta Pusat, Selasa (2/9).
Menurut dia, resepsi mewah lalu dipamerkan di media sosial berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial. Ia juga meminta pejabat untuk memperhatikan cara berpakaian agar tidak menimbulkan kesan hedon.
“Ini bukan hanya soal acara dinas, tapi juga pribadi. Kalau ada pernikahan atau ulang tahun, merayakan dengan sederhana saja,” tukas Tito.
Terakhir, ia meminta kepala daerah untuk menunda perjalanan ke luar negeri dan tetap berada di wilayah masing-masing.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
