
AKBP Joko Dwi Harsono dari Densus 88 Antiteror Polri memaparkan isi buku "JI the Untold Story" saat bedah buku di Auditorium Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (31/7). (Juliana Christy/Jawa Pos)
JawaPos.com – Organisasi Jamaah Islamiyah kembali diulas dalam kegiatan bedah buku di auditorium kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis siang (31/7).
Buku itu berjudul “JI the Untold Story”, ditulis oleh Kepala Densus 88 Antiteror Polri, Irjen Pol Sentot Prasetyo.
Bukan buku biasa. Buku ini memuat kisah panjang Jamaah Islamiyah—kelompok radikal yang pernah mengguncang Indonesia—dari masa kelahirannya hingga saat organisasi itu menyatakan diri bubar.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini menawarkan satu hal: narasi tandingan terhadap ideologi yang pernah tumbuh dan menyebar.
Sejumlah tokoh berkumpul dalam bedah buku itu. Ada akademisi, aparat keamanan, dan seorang pria yang pernah duduk dalam Dewan Fatwa kelompok Jamaah Islamiyah (JI).
Diskusi di ruang yang dindingnya dihiasi lambang institusi pendidikan itu, AKBP Joko Dwi Harsono mewakili Densus 88 memaparkan isi buku. Ia bicara soal akar gerakan, dinamika di dalamnya, serta bagaimana JI berkembang, melemah, hingga akhirnya memilih berhenti.
"Buku ini tidak hanya menjelaskan kronologi. Tapi juga membongkar logika ideologi yang mereka bangun dan bagaimana narasi itu ditantang oleh realitas," kata AKBP Joko.
Di tengah audiens, duduk pula Ustadz Imtihan. Dulu, namanya dikenal di kalangan internal JI. Kini, ia berdiri sebagai seseorang yang bersedia berbicara tentang masa lalunya—bukan untuk membela, tapi memberi jarak dan perspektif.
“Banyak dari kami dulu percaya bahwa jalan perjuangan bisa dicapai lewat kekerasan. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan itu," katanya pelan.
Imtihan menyebut pembubaran JI sebagai momentum reflektif. Menurutnya, itu bukan hasil tekanan eksternal semata, tapi juga kesadaran kolektif dari dalam tubuh organisasi. Sebuah kesadaran bahwa arah perjuangan selama ini salah arah.
Di sisi lain, perguruan tinggi sebagai tuan rumah acara, merasa punya tanggung jawab moral. Mundakir, Rektor UM Surabaya, menyebut bedah buku semacam ini bukan hanya kegiatan literasi biasa.
“Kampus harus menjadi ruang yang sehat untuk membicarakan hal-hal yang selama ini dianggap sensitif. Kita tidak boleh membiarkan narasi sejarah dibentuk sepihak,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah kelompok radikal tidak bisa hanya dilihat dari kacamata keamanan, tapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial-keagamaan yang kompleks.
Dengan begitu, upaya melawan radikalisme tidak lagi berhenti di pencegahan, tapi juga pemahaman mendalam.
Diskusi hari itu juga diwarnai kehadiran para peneliti dan pengamat seperti Solahudin, yang sudah lama menelusuri jejak gerakan Islamis di Indonesia.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
