Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 Juli 2025 | 06.10 WIB

HKTI Jatim Kecam Praktik Beras Oplosan: Rugikan Petani dan Konsumen

Pedagang saat mengecek kondisi beras di tokonya. (Dery Ridwansyah/ JawaPos.com) - Image

Pedagang saat mengecek kondisi beras di tokonya. (Dery Ridwansyah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Maraknya temuan beras premium oplosan di berbagai daerah di Indonesia menimbulkan keresahan luas. Tidak hanya masyarakat selaku konsumen, kelompok tani juga turut resah atas praktik curang ini.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur, HM Arum Sabil mengatakan bahwa praktik beras oplosan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab membuat petani merugi.

Beras oplosan tentu tidak hanya berdampak terhadap petani namun juga kepada konsumen,” ujar Arum Sabil usai acara pelantikan 38 ketua DPC HKTI se-Jawa Timur di Surabaya, Jumat (25/7).

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi ranah aparat penegak hukum. HKTI sebagai organisasi petani terbesar di Indonesia akan tetap fokus pada upaya penyediaan pangan yang aman dan berkualitas untuk masyarakat.

“Fokus kami saat ini adalah penguatan bibit unggul untuk padi, tebu, hingga sapi. Di bidang peternakan, kami mendorong regenerasi bibit melalui inseminasi buatan dan sinkronisasi birahi," tambahnya.

Selain mendorong aktivitas tanam, HKTI juga menjalankan peran edukatif, advokatif, dan memberikan rekomendasi kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan para petani, pekebun, dan peternak.

Arum menilai fluktuasi harga hasil pertanian, seharusnya ikut menyejahterakan petani. Ia mendorong pemerintah membuat kebijakan yang adil bagi petani tanpa membebani masyarakat sebagai konsumen.

“Sekarang ini kondisi harga masih normal. Yang perlu saya tekankan, Jawa Timur ini lumbung pangan nasional, kita punya potensi besar dari sektor pertanian, yang bisa dikembangkan secara luas," seru Arum.

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri mengungkap kasus beras oplosan. Nilai kerugian masyarakat sebagai konsumen pun tidak tanggung-tanggung, nyaris menyentuh nilai Rp 100 triliun per tahun.

Kepala Satgas Pangan Polri, Brigjen Pol Helfi Assegaf menyampaikan, kerugian sebesar itu berasal dari peredaran beras oplosan dengan label premium dan label medium. Rincinya, Rp 34,21 triliun dari beras premium dan Rp 65,14 triliun dari beras medium. 

”Bapak Mentan (Amran Sulaiman) menyampaikan hasil temuan di lapangan terhadap mutu dan harga beras yang anomali. Karena di masa panen raya, beras surplus kok terjadi kenaikan harga yang luar biasa," ujar Brigjen Pol Helfi.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore