Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Juli 2025 | 19.34 WIB

Dukung Program Kamis Mlipis yang Wajibkan Siswa Berbahasa Jawa di Sekolah Surabaya, PGRI: Semoga Jangan yang Terlalu Krama

Ketua PGRI Kota Surabaya, Agnes Warsiati mendukung program Kamis Mlipis. (Novia Herawati/JawaPos.com) - Image

Ketua PGRI Kota Surabaya, Agnes Warsiati mendukung program Kamis Mlipis. (Novia Herawati/JawaPos.com)

JawaPos.com - PGRI Kota Surabaya menyambut baik kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang mewajibkan siswa TK, SD, hingga SMP untuk berbahasa Jawa Krama di sekolah setiap Kamis.

"Kami sangat mendukung ya. Karena apa? Ini bisa menjadi upaya agar anak muda memiliki karakter sopan santun," tutur Ketua PGRI Kota Surabaya, Agnes Warsiati kepada JawaPos.com, Senin (21/7).

Agnes bercerita bahwa sebelumnya, Pemprov Jawa Timur (Jatim) pernah menerapkan kebijakan wajib berbahasa Jawa di sekolah setiap hari Senin.

"Tetapi kenyataannya, setiap hari Senin, siswa-siswi ini malah takut untuk bertemu kita (guru). Takut nanti harus 'boso' (berbicara bahasa Jawa krama ke guru). Padahal bahasa Jawa itu kan ada banyak tingkatan," tambahnya.

Dikutip dari buku Tingkat Tutur Bahasa Jawa (2013) oleh Soepomo Poedjosoedarmo dkk, ada tiga tingkatan bahasa Jawa, yakni bahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa madya, dan bahasa Jawa krama inggil.

"Kami mendukung (program Kamis Mlipis), tetapi semoga jangan yang terlalu krama. Seperti krama inggil (tingkatan bahasa jawa paling halus), yang digunakan di keseharian saja, yang terpenting mereka (anak-anak) punya karakter sopan santun," jelas Agnes.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mewajibkan penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan sekolah setiap hari Kamis. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Walikota Surabaya Nomor 17 Tahun 2025.

Kepala Dispendik Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan bahwa kebijakan ini berlaku bagi siswa di jenjang pendidikan TK, SD, hingga SMP. Melalui program Kamis Mlipis, krama inggil akan dimasukkan dalam muatan lokal wajib.

"Kami sangat siap mendukung revitalisasi ini. Bahasa Jawa telah ditetapkan sebagai pelajaran wajib, dan Krama Inggil akan menjadi bagian tak terpisahkan dari modul ajar kami," ucap Yusuf di Surabaya, Rabu (9/7) lalu.

Sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, Yusuf tak menampik adanya keberagaman budaya dan etnis di Kota surabaya. Termasuk dalam kemampuan Bahasa Jawa siswa.

“Pengajaran akan disesuaikan dengan Bahasa Jawa khas Surabaya. Misalnya, dalam mendongeng, siswa bisa menggunakan cerita daerah dengan logat khas seperti kata 'rek' atau 'koen'. Jadi penerapannya fleksibel," imbuhnya

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore