
Tim mahasiswa Civil Engineering PCU yang berhasil meraih Silver Award di Singapura. (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com – Tiga mahasiswa Teknik Sipil dari Petra Christian University (PCU) Surabaya mencuri perhatian dunia lewat prestasi unik: merancang jembatan mini.
Meskipun mini, jangan remehkan kekuatanny. Dengan bobot hanya 14,94 gram, jembatan mini itu mampu menahan beban hingga 224,51 Newton atau setara 22,9 kilogram. Lebih dari 1.532 kali berat jembatan!
Karya tersebut sukses mengantarkan tim meraih Silver Award dalam International Bridge Design Competition (BDC) yang digelar di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, pada 12–13 April 2025 lalu.
Kompetisi bergengsi ini diikuti oleh 172 tim dari berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.
Setiap tim ditantang merancang dan membangun jembatan dari bahan kayu balsa dan kayu bass berdasarkan studi kasus fiktif Sungai Manggis Quirk.
Tim Civil @PCU yang beranggotakan Cornelius Jefferson Tjahjono, Timothy Christian Sayogo, dan Winston Tankoma hadir sebagai kejutan dalam kompetisi.
Meski berhadapan dengan tim-tim berpengalaman dari kampus ternama, mereka mampu tampil menonjol berkat kekuatan desain dan strategi presentasi yang matang.
“Senang sekali dan tidak menyangka bisa menang. Waktu lombanya juga menantang karena studi kasus baru diumumkan di hari-H,” ujar Winston, Senin (5/5).
Dalam waktu hanya enam jam, tim harus merancang struktur jembatan, membuat video presentasi, dan memaparkan solusi teknis dalam bahasa Inggris di hadapan dewan juri yang berasal dari perusahaan teknik internasional.
Desain yang mereka bawa diberi nama “Basic Legendary Truss Bridge”, hasil gabungan dua tipe rangka: Howe dan Pratt.
Kombinasi ini membuat struktur lebih stabil dalam menghadapi gaya tekan maupun tarik. Fokus mereka adalah menciptakan jembatan yang sederhana, ringan, tapi kuat dan efisien.
Tim ini juga dinilai unggul dalam efisiensi material dan estetika desain. Dari segi bobot, jembatan mereka termasuk yang paling ringan, namun tetap kuat saat diuji beban berat. Total penilaian mencakup aspek kekuatan, efisiensi bahan, hingga nilai estetika.
Persiapan matang sudah dilakukan jauh sebelum keberangkatan ke Singapura. Ketiganya berdiskusi intens dengan dosen pembimbing Ruben Adicahya, untuk mematangkan desain dasar. Mereka juga membagi peran dan rutin latihan agar saat kompetisi bisa saling melengkapi.
Meski ini pengalaman internasional pertama mereka, Cornelius, Timothy, dan Winston mampu membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia, khususnya dari Surabaya, mampu bersaing dan unggul di tingkat global.
Mereka berharap pencapaian ini bisa menginspirasi generasi mahasiswa lainnya untuk berani melangkah dan berprestasi di kancah dunia.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
