
Warga Surabaya mengikuti misa Oktaf Paskah dengan intensi khusus mendoakan Paus Fransiskus yang wafat pada Senin (21/4). (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com — Suasana haru menyelimuti Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya pada Selasa (22/4) sore.
Saat mentari mulai tenggelam dan cahaya lembut menembus kaca-kaca patri, lonceng gereja berdentang memanggil umat untuk sebuah perayaan yang istimewa: Misa Oktaf Paskah dengan intensi khusus mendoakan Paus Fransiskus yang wafat sehari sebelumnya.
Perayaan Ekaristi dimulai pukul 18.00 WIB, dipimpin langsung oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo.
Dalam homilinya, Mgr. Agustinus mengajak seluruh umat untuk tidak hanya mengenang sosok Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik, tetapi juga sebagai pribadi yang telah menyentuh hati banyak orang, lintas agama dan keyakinan.
“Yang hadir malam ini bukan hanya umat Katolik,” ungkap Uskup. “Tetapi juga saudara-saudari Kristiani dari gereja lain, umat Muslim, Hindu, dan Buddha, serta berbagai kalangan masyarakat. Ini bukan hanya bentuk duka cita, tapi juga penghormatan dan apresiasi atas figur rohaniwan besar yang telah wafat,” lanjutnya.
Ruang dalam Katedral dipenuhi aroma dupa dan alunan lagu rohani. Beberapa umat tampak meneteskan air mata, sementara yang lain terdiam khusyuk. Di antara mereka, anak-anak muda, lansia, hingga tokoh lintas agama duduk berdampingan dalam damai.
“Beliau adalah teladan kepemimpinan yang langka,” tutur Mgr. Agustinus. “Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin yang progresif, dekat dengan kaum miskin, yang terpinggirkan, serta selalu menghadirkan wajah Tuhan yang penuh cinta dan pengampunan,” jelasnya.
Meski kecil kemungkinan, saat ditanya apakah ada kemungkinan calon Paus berasal dari Indonesia, ia menjawab dengan rendah hati.
“Secara manusiawi, peluangnya kecil. Tapi kuasa Tuhan tidak terbatas. Siapa pun yang akan dipilih nanti melalui konklaf, kami percaya, itu pilihan yang tepat sesuai tanda-tanda zaman,” ucapnya.
Di luar gereja, lilin-lilin dinyalakan dan diletakkan di pelataran. Suasana hening dan damai menyelimuti, seolah setiap cahaya adalah doa bagi kepergian Bapa Suci.
Yogi (23), pemuda Katolik dari kawasan Tegalsari, ikut hadir dan mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap Paus Fransiskus.
“Beliau seperti wajah Yesus. Mau merangkul siapa pun—LGBT, yang berdosa, berbeda iman. Beliau tidak menghakimi, tapi menyapa dan memberkati. Itu yang membuat saya merasa diterima,” ujar Yogi dengan mata berkaca-kaca.
Misa ini menjadi simbol kuat bahwa kasih, kepedulian, dan spirit lintas iman bisa menyatu dalam duka dan doa bersama. Sosok Paus Fransiskus tak hanya dikenang sebagai pemimpin umat Katolik, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan yang universal.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
