
Makan Bergizi Gratis di SD Taquma Surabaya. (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com–Wacana serangga sebagai opsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diusulkan Badan Gizi Nasional, belakangan ini berhasil menyita perhatian dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Salah satunya oleh Ahli Gizi Universitas Airlangga (Unair) Lailatul Muniroh. Menurut dia, pemerintah perlu melakukan pertimbangan matang, sebelum benar-benar memasukkan serangga ke dalam daftar menu MBG.
”Sebelum membahas kandungan protein pada serangga dan ulat, yang harus kita pertanyakan, bagaimana kesungguhan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Lailatul kepada JawaPos.com, Rabu (29/1).
Dosen Gizi yang mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, itu lantas mempertanyakan alasan di balik wacana ini. Apakah karena semata-mata kandungan protein serangga itu tinggi.
”Atau opsi serangga ini karena anggaran terbatas. Jangan sampai Makan Bergizi Gratis ini hanya sekadar menjalankan program, tanpa ada niatan memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” imbuh Lailatul Muniroh.
Adapun beberapa serangga yang bisa dikonsumsi menurut Singapore Food Agency (SFA). Yakni jangkrik, belalang, ulat sutera, ulat hongkong, lebah larva, kumbang tanduk.
Lalu kumbang tepung, semut, laron, belalang kayu, larva kumbang merah, serangga daun, kepik, cacing madu, kumbang rusa, larva kumbang bambu.
”Di daerah tertentu yang memang terbiasa konsumsi ulat dan serangga ya bisa saja (diterapkan jadi menu MBG), yang menjadi persoalan tidak semua daerah menganggap ulat dan serangga jadi edible food,” seru Lailatul.
Sebelumnya, dalam rangka menyesuaikan potensi di beberapa daerah, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membuka opsi serangga menjadi bagian salah satu menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dadan menegaskan, serangga menjadi salah satu menu Makan Bergizi Gratis tidak skala nasional. Hanya diterapkan di beberapa daerah. Sebab, protein di daerah bergantung pada ketersediaan sumber daya lokal.
Badan Gizi Nasional tidak menetapkan standar menu nasional dalam program Makan Bergizi Gratis. Melainkan menetapkan standar komposisi gizi, di mana menunya bergantung pada potensi pangan lokal.
”Jangan diartikan lain ya, karena kalau di daerah yang banyak telur, ya telur lah mungkin mayoritas (menu MBG). Begitu juga daerah yang banyak ikan, ikan lah yang mayoritas, seperti itu,” tandas Dadan di Jakarta, Sabtu (25/1).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
