Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Januari 2025 | 06.58 WIB

Pakar Unair Kritisi Wacana Serangga di Menu MBG: Demi Gizi atau Hemat Anggaran?

Makan Bergizi Gratis di SD Taquma Surabaya. (Novia Herawati/JawaPos.com) - Image

Makan Bergizi Gratis di SD Taquma Surabaya. (Novia Herawati/JawaPos.com)

JawaPos.com–Wacana serangga sebagai opsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diusulkan Badan Gizi Nasional, belakangan ini berhasil menyita perhatian dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Salah satunya oleh Ahli Gizi Universitas Airlangga (Unair) Lailatul Muniroh. Menurut dia, pemerintah perlu melakukan pertimbangan matang, sebelum benar-benar memasukkan serangga ke dalam daftar menu MBG.

”Sebelum membahas kandungan protein pada serangga dan ulat, yang harus kita pertanyakan, bagaimana kesungguhan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Lailatul kepada JawaPos.com, Rabu (29/1).

Dosen Gizi yang mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, itu lantas mempertanyakan alasan di balik wacana ini. Apakah karena semata-mata kandungan protein serangga itu tinggi.

”Atau opsi serangga ini karena anggaran terbatas. Jangan sampai Makan Bergizi Gratis ini hanya sekadar menjalankan program, tanpa ada niatan memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” imbuh Lailatul Muniroh.

Adapun beberapa serangga yang bisa dikonsumsi menurut Singapore Food Agency (SFA). Yakni jangkrik, belalang, ulat sutera, ulat hongkong, lebah larva, kumbang tanduk.

Lalu kumbang tepung, semut, laron, belalang kayu, larva kumbang merah, serangga daun, kepik, cacing madu, kumbang rusa, larva kumbang bambu.

”Di daerah tertentu yang memang terbiasa konsumsi ulat dan serangga ya bisa saja (diterapkan jadi menu MBG), yang menjadi persoalan tidak semua daerah menganggap ulat dan serangga jadi edible food,” seru Lailatul.

Sebelumnya, dalam rangka menyesuaikan potensi di beberapa daerah, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membuka opsi serangga menjadi bagian salah satu menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dadan menegaskan, serangga menjadi salah satu menu Makan Bergizi Gratis tidak skala nasional. Hanya diterapkan di beberapa daerah. Sebab, protein di daerah bergantung pada ketersediaan sumber daya lokal.

Badan Gizi Nasional tidak menetapkan standar menu nasional dalam program Makan Bergizi Gratis. Melainkan menetapkan standar komposisi gizi, di mana menunya bergantung pada potensi pangan lokal.

”Jangan diartikan lain ya, karena kalau di daerah yang banyak telur, ya telur lah mungkin mayoritas (menu MBG). Begitu juga daerah yang banyak ikan, ikan lah yang mayoritas, seperti itu,” tandas Dadan di Jakarta, Sabtu (25/1).

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore