
Ilustrasi PPDB jalur Zonasi di Kota Surabaya. (Dokumentasi Jawa Pos)
JawaPos.com - Wacana penghapusan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terus menjadi bahan perdebatan. Isa Anshori, seorang pengamat pendidikan, menyampaikan kekhawatirannya bahwa langkah ini mencerminkan ketidakkonsistenan kebijakan pendidikan di Indonesia.
Menurutnya, kebijakan pendidikan di Indonesia seringkali berubah-ubah mengikuti pergantian pemerintahan, sehingga tidak menciptakan kemajuan yang stabil.
"Pergantian pemerintah seringkali memunculkan kebijakan baru, termasuk kurikulum dan sistem pendidikan. Hal ini membuat kebijakan kita seolah maju mundur, tidak ada konsistensi yang memberikan dampak positif jangka panjang," ujar Isa kepada JawaPos.com, Sabtu (7/12).
Isa menjelaskan bahwa sistem zonasi awalnya dirancang untuk menghapus stigma sekolah favorit dan memberikan kesempatan lebih merata bagi semua siswa tanpa memandang latar belakang ekonomi atau akademis mereka.
"Zonasi bertujuan menghapus stigma bahwa hanya kelompok tertentu yang bisa masuk sekolah favorit. Ini memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengakses pendidikan yang bermutu," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sistem zonasi juga membawa prinsip-prinsip pendidikan seperti nondiskriminasi dan aksesibilitas ke dalam praktik nyata. Dengan zonasi, setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang baik tanpa adanya eksklusivitas atau diskriminasi berdasarkan nilai akademis.
Namun, wacana penghapusan zonasi ini dikhawatirkan akan membawa sistem pendidikan kembali ke masa lalu, di mana seleksi berbasis nilai akademis menjadi penentu utama. Isa mengingatkan, seleksi semacam ini cenderung menimbulkan tekanan besar pada siswa dan keluarganya.
"Dulu saat ujian nasional masih menjadi syarat utama, banyak anak yang stres, bahkan ada yang mengalami kesurupan akibat tekanan tersebut. Apakah kita ingin mengulang itu lagi?" tanyanya.
Meski memiliki manfaat, sistem zonasi tidak lepas dari kekurangan, terutama terkait infrastruktur pendidikan. Isa mencatat bahwa tidak semua daerah memiliki jumlah sekolah negeri yang memadai, sehingga banyak siswa tidak mendapatkan pilihan yang sesuai.
"Selama ini, zonasi sering dikaitkan dengan kelurahan atau kecamatan. Padahal, tidak semua wilayah memiliki sekolah yang cukup. Ini yang menyebabkan persaingan untuk masuk sekolah negeri menjadi sangat ketat," jelas Isa.
Untuk mengatasi masalah ini, Isa mengusulkan redefinisi konsep zonasi dengan pendekatan wilayah yang lebih luas. Ia memberikan contoh, pendekatan kelurahan dapat diterapkan untuk jenjang SD, sedangkan jenjang SMP lebih cocok dengan pendekatan kecamatan. Untuk SMA, yang menjadi kewenangan provinsi, pendekatan berbasis kota atau kabupaten dianggap lebih ideal.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
