
Perenang non atlet yang berpartisipasi dalam Chlo Cup 2024 di kolam renang Surabaya Intercultural School (SIS), Surabaya, Minggu (24/11). (Narendra Prasetya/Jawa Pos)
JawaPos.com–Siapa bilang untuk mengikuti sebuah kejuaraan bergengsi harus jadi atlet atau masuk dalam klub terlebih dahulu. Bagi penghobi olahraga yang individual atau tak masuk dalam klub dan belum berstatus atlet pun bisa mengikuti.
Seperti dalam kejuaraan renang bertajuk Chlo Cup edisi ketiga yang berlangsung di kolam renang Sekolah Intercultural School (SIS) Surabaya, Minggu (24/11). Di ajang itu peserta murni individu penghobi renang. Kejuaraan digelar Chlo Swim School.
Tercatat, sebanyak 350 perenang yang berumur antara 4-18 tahun berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut. Jumlah tersebut menjadikan kejuaraan ini sebagai kejuaraan non atlet terbesar di Surabaya.
Mayoritas perenang peserta dari Surabaya. Khususnya dari Surabaya barat. Mereka bertanding dalam dua gaya. Gaya bebas dan gaya dada, masing-masing putra-putri dengan jarak 25 dan 50 meter. Selain itu kickboard gaya bebas 25 meter.
Ketua Panitia Chlo Cup 3 2024 Regis Lintang Mahardhika mengungkap, ajang ini jadi wadah bagi pelatih atau trainer renang privat mengasah kemampuan anak didiknya di kolam renang.
’’Karena, selama ini mereka belum punya wadah atau kejuaraan. Terutama anak-anak yang hanya belajar berenang secara privat. Bukan tergabung di dalam klub, persis seperti filosofi Chlo Swim School Anyone Can Swim,’’ sebut Regis.
Regis menuturkan, kekuatan perenang yang dididik secara privat, berbeda kalau dibandingkan dengan perenang dari klub. Porsi latihan klub bisa 3-5 kali dalam sepekan dan itu berbeda dengan les privat renang. Rata-rata, dalam kurun waktu sepekan les renang privat hanya berlatih 2-3 kali. Bahkan, ada pula yang hanya sekali dalam sepekan.
’’Otomatis, tenaganya pun juga tidak seperti yang lebih sering berlatih,’’ kata Regis yang juga menjabat sebagai kepala pelatih Chlo Swim tersebut.
Karena fokusnya hanya untuk perenang dari latihan privat yang tidak tergabung di klub, setiap perenang yang mendaftar dalam kejuaraan ini pun akan dicek statusnya. Kalau sudah mempunyai NISDA (Nomor Induk Start Daerah) atau NISNA (Nomor Induk Start Nasional), otomatis tidak diperbolehkan berpartisipasi.
Meski belum berstatus atlet, Regis mengklaim secara kualitas perenang-perenang yang turun dalam Chlo Cup mengalami peningkatan setiap tahunnya.
’’Di sini terpenting anak-anak bisa menambah teman dan pengalaman. Pelatih-pelatih juga bisa menambah wawasan,’’ ujar Regis.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
