Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Juli 2023 | 04.56 WIB

Hadiah Uang dari Wali Kota Surabaya untuk Remaja Penjual Peyek dengan Merangkak Bakal Dibelikan TV

Chintya bersama Sumiyati di kediamannya di kawasan Kendangsari 7 Surabaya - Image

Chintya bersama Sumiyati di kediamannya di kawasan Kendangsari 7 Surabaya

JawaPos.com–Chintya, remaja asal Surabaya yang viral karena berjualan peyek dengan merangkak, tak pernah menyangka bakal bertemu dengan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Eri mendatangi kediaman Chintya di Kendangsari Surabaya beberapa waktu lalu. Chintya dan Sumiyati, ibu dari Chintya, mengaku kaget ketika ada Wali Kota Surabaya menyambangi.

”Saya kaget begitu disampaikan ada Pak Wali Kota datang. Saya itu sampai bingung dan merasa bersalah ketika dengar cerita Pak Lurah saya dimarah-marahi di Instagram oleh netizen,” tutur Sumiyati.

Perempuan 46 tahun itu menyatakan tak mengharapkan banyak hal dari siapapun. Dia dan keluarga bisa makan hingga beli pampers untuk sang suami yang sakit kanker tenggorokan adalah hal paling bahagia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sempat memberikan uang untuk Chintya. Rencananya, uang tersebut bakal dibelikan TV.

”Kami kepengin sekali beli TV. Pengin lihat TV, yang murah-murah tidak apa-apa,” terang Sumiyati.

Beberapa waktu lalu, rekaman video seorang remaja di kawasan Dharmawangsa Surabaya berjualan peyek dengan merangkak. Setelah ditelusuri ternyata remaja itu bernama Chintya.

Remaja 17 tahun asal Surabaya itu menjajakan dagangan rempeyek buatan sang ibu sambil menunggu tim terapi RSUD Soetomo memanggilnya. Dia menderita kelainan tulang sejak lahir.

Chintya tinggal bersama keluarga kecilnya di rumah kos ukuran lebih kurang 3x3 meter persegi di Kendangsari Gang 7, Sekolahan RT 7. Putri pasangan Andi Siswoto, 49, dan Sumiyati, 46, itu berjualan peyek untuk mendapatkan tambahan uang.

Chintya mengaku tak malu berjualan peyek dan tidak ada paksaan dari orang tuanya. ”Waktu itu pengambilan videonya juga untuk penggalangan donasi kan dari satu pihak yang sudah disetujui juga oleh saya sama keluarga, sekitar Maret lalu,” ungkap Chintya.

Chintya tidak pernah menyangka jika videonya itu viral dan menggegerkan banyak pihak. Dia mandek sekolah setelah lulus SMP.

”Saya kembali sekolah pakai kejar paket C dari Geng Gemes yang menyekolahkan. Saya pengen jadi dokter kalau bisa kuliah,” ucap Chintya dengan malu-malu.

Sumiyati menjadi tulang punggung keluarga sejak 2019. Sebab, suami tak bisa lagi bekerja setelah didiagnosis kanker tenggorokan. Saat ini, kondisi sang suami tak bisa melihat. Kankernya juga telah menyebar ke hidung.

Chintya dan Sumiyati tak pernah berhenti membasahi bibirnya dengan lantunan doa tiap pagi. Begitu JawaPos.com menanyakan, apa yang membuat Sumiyati kuat menjalani kehidupannya, air matanya berlinang.

”Kebutuhan perut bukan prioritas kami. Saya bersyukur bisa beli pampers untuk ayahnya. Untungnya, anak-anak ini nggak rewel urusan perut. Saya bekerja sebagai tenaga lepas di salah satu konveksi tiap hari,” ucap Sumiyati.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore