
TAMPUNG KELUHAN: Sejumlah orang tua mengadukan persoalan PPDB zonasi kemarin (20/6). Mereka mengaku tidak bisa memilih sekolah yang berada di dekat rumahnya.
JawaPos.com – Di depan petugas posko PPDB Dispendik Surabaya, Ismiyati menumpahkan masalahnya. Nama anaknya tidak muncul saat mendaftar di sekolah dekat rumahnya. Padahal, jarak rumah dan sekolah itu sangat dekat.
”Tetangga saya daftar di zona 1 (zonasi kota) dan zona 2 (zonasi kecamatan). Padahal, rumah saya dekat sekolah, tetapi nama anak saya tidak muncul. Tahu gitu saya daftar juga di zona 1 dan 2, bukan zona 1 pilih dua sekolah,” ujarnya, Selasa (20/6).
Warga Sukolilo itu ingin segera mendapatkan kepastian sekolah mana yang bisa menampung anaknya. Sebab, berdasar jarak, SMP Negeri 19 dan SMP Negeri 52 sama-sama dekat dengan rumahnya. Namun, sistem PPDB dinilainya tidak jelas.
Menurut Ismiyati, tetangganya yang memilih dua zona pendaftaran pasti memiliki kesempatan yang lebih besar anaknya masuk ke sekolah negeri. Sedangkan, dia masih harus mencari sekolah lain. Ismiyati menyesal dengan keputusannya untuk memilih zona 1 dan memilih dua sekolah.
”Saya tidak merasa iri, tapi yang namanya orang tua ya khawatir sendiri. Sekolah tidak menjelaskan, berbeda dengan penjelasan petugas di sini,” paparnya.
Suci juga melayangkan protes. Sebab, di dekat rumahnya, kawasan Tambaksari, jumlah sekolah tak imbang dengan jumlah penduduk. ”Mosok jarak sekolah nggak sampai 700 meter, tapi tidak masuk. Karena penduduk padat, jadi kalah dengan yang dekat-dekat,” ujarnya kesal.
Dia berniat memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Namun, dia kembali ragu setelah menerima kabar adanya akreditasi sekolah yang belum standar. Menurut dia, hal itu akan mempersulit ketika masuk ke jenjang sekolah menengah atas (SMA).
Menanggapi keluhan warga itu, kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya meminta orang tua terus memantau pendaftaran siswa. Sebab, ada banyak pergerakan data. Mulai data masuk hingga keluar.
”Sebenarnya, dalam sistem pun itu sudah muncul rekomendasi jarak sekolah terdekat. Berpatokan dengan hal itu, orang tua jadi lebih gampang. Namun, sering kali ada kendala teknis,” katanya.
Kendala teknis itu, misalnya, saat penitikan, orang tua tidak mengecek kembali posisi titik. ”Waktu pendaftaran pun bisa dikombinasi. Tidak harus zonasi 1 semua,” papar Yusuf. (gal/c6/aph)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022