Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Desember 2022 | 06.28 WIB

Perundungan dan Merokok Mendominasi Kenakalan Siswa SMP di Surabaya

Ilustrasi siswa SMP. Alfian Rizal/JawaPos - Image

Ilustrasi siswa SMP. Alfian Rizal/JawaPos

JawaPos.com - Murid jenjang pendidikan SMP acap kali mengalami fase transisi dari anak-anak menuju remaja. Hal tersebut membawa sejumlah dinamika, tak terkecuali kenakalan remaja. Setidaknya, perilaku perundungan dan merokok menjadi dua kasus yang paling mendominasi.

Hal itu diketahui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bimbingan Konseling (BK) Surabaya setelah melakukan pendataan di 115 SMP negeri dan swasta. Perundungan verbal menduduki posisi pertama dengan rata-rata tingkat kejadian di atas 40 persen. Baik yang dilakukan secara tatap muka maupun melalui media sosial.

’’Yang dikhawatirkan bisa berlanjut ke perundungan fisik atau berkelahi. Biasanya karena mengejek pakai nama orang tua,’’ ungkap Ketua MGMP BK Surabaya Bimo Prasetyo, Selasa (21/12).

Aspek kesehatan murid juga menjadi perhatian pihaknya. Pasalnya, perilaku merokok menduduki kasus tertinggi kedua, terutama pada sekolah yang terletak di kawasan pinggiran Surabaya. Perilaku itu semakin didukung dengan menjamurnya pedagang yang menjual rokok di sekitar sekolah secara bebas. Jika diketahui guru, kumpulan murid langsung melarikan diri.

’’Di lingkungan sekolah saya pun, penjual rokok juga banyak. Biasanya kami mengingatkan murid dengan humanistis saat bertemu keesokan harinya. Saya harap pemkot memberikan intervensi lebih lanjut terkait hal ini,’’ jelas guru SMP Negeri 48 Surabaya itu.

Ada beberapa tantangan atau hambatan saat melakukan upaya penanganan dua kasus tersebut. Di antaranya, murid menutup diri tak mau bercerita, perilaku mereka yang tak menunjukkan gejala mengalami perundungan, atau merasa belum enjoy dengan guru BK. Sebab, masih ada murid yang khawatir jika permasalahan yang diceritakan akan tersebar ke pihak lain.

’’Itu kesulitan kami, kecuali bagi mereka yang datang secara mandiri ke BK biasanya langsung menceritakan permasalahannya,’’ ungkap dia.

Guru pun diharuskan proaktif melakukan observasi kepada setiap murid. Jika tampak gejala seperti melamun, guru lantas mendekati murid supaya mau bercerita. Selain itu, pihaknya memiliki program kader pembimbing teman terbaik (pemantik) yang berasal dari murid. Tujuannya, permasalahan yang ada dapat terdeteksi lebih cepat karena berasal dari teman sebaya.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Surabaya Syaiful Bachri menyatakan, dua kasus tersebut mendominasi setiap tahun. Dia menilai, hal itu disebabkan murid sedang mencari jati diri dengan menunjukkan eksistensi. Termasuk kurangnya pengawasan dari keluarga, terutama saat pandemi, yang mengakibatkan anak lepas kendali.

’’Misalnya, perundung ingin memperlihatkan bahwa dirinya orang yang kuat. Faktornya karena iri dan ingin menguasai,’’ ujarnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore