
Photo
JawaPos.com- Cuaca di wilayah Surabaya dan sekitarnya masih kerap tak menentu. Hujan deras disertai angin kencang kerap terjadi sewaktu-waktu. BMKG Maritim Tanjung Perak memprediksi kondisi tersebut terjadi hingga tiga hari ke depan.
Prakirawan BMKG Tanjung Perak Adi Hermanto menyatakan, hujan disertai angin kencang terjadi pada siang hingga sore. Baik itu di darat maupun perairan laut. Gelombang air di laut pun meningkat dua kali lipat daripada kondisi normal. Yakni, 1,5–2 meter.
Untuk sementara, para nelayan diimbau untuk tidak beraktivitas di laut. Sebab, itu sangat membahayakan dan mengundang risiko. Begitu pun di darat. Masyarakat diminta tidak berteduh di bawah pohon saat hujan tiba.
’’Diprediksi cuaca kembali kondusif pada awal November. Masih terjadi hujan, tetapi intensitas hujan tidak tinggi dan tak terjadi angin kencang,’’ kata Adi kemarin (24/10).
Ditpolairud Polda Jawa Timur merespons prakiraan cuaca tersebut. Patroli semakin digencarkan sebagai bentuk langkah pencegahan. Kanit SAR Ditpolairud Polda Jatim Iptu Partika Guntur menyatakan, imbauan kepada nelayan supaya tak melaut saat cuaca ekstrem sudah berkali-kali dilakukan.
Pihaknya juga meminta mereka untuk aktif melaporkan kondisi yang terjadi di laut. Sebagaimana gelombang tinggi, angin kencang, atau adanya peristiwa kecelakaan laut. Misalnya, ada kapal dan nelayan yang tenggelam.
Dengan koordinasi yang baik, otomatis tindakan pun akan diberikan secara cepat. ’’Puluhan petugas selalu stand by. Terutama saat terjadi hujan atau air pasang. Untuk mengetahui kondisi yang terjadi, mereka ditugaskan untuk menggelar patroli,’’ kata Guntur.
Selain petugas kepolisian, cuaca ekstrem yang terjadi di Jawa Timur menjadi perhatian TNI-AL. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyatakan, personel untuk penanganan bencana alam telah disiapkan. Begitu pun sarana dan prasarananya. Seluruh kapal rumah sakit juga telah disiagakan.
’’Sehingga jika sewaktu-waktu dibutuhkan, personel beserta KRI bisa langsung menuju ke lokasi yang dimaksud,’’ kata Yudo di Kodiklatal pada Jumat (21/10).
Terpisah, Ketua Paguyuban Nelayan Tambak Wedi Mustofa menyatakan, musim hujan tidak memengaruhi aktivitas nelayan untuk melaut. Meski adanya kenaikan gelombang dan angin, kondisinya masih relatif normal.
Saat musim hujan, Mustofa menjelaskan bahwa justru terjadi kenaikan hasil laut. Sebagaimana rajungan atau ikan keting. Secara otomatis, kondisi tersebut membuat aktivitas melaut semakin tinggi.
’’Apalagi awal November, tangkapan rajungan bisa 25–30 kilogram. Sementara itu, ikan keting bisa mencapai 1 kuintal,’’ ujar Mustofa kemarin.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
