
SUKSES: Sunarno Edi Wibowo menunjukkan surat keputusan penganugerahan gelar profesor dari ASEAN Uiversity di depan sejumlah buku tentang hukum karyanya. (Hasti Edi Sudrajat/Jawa Pos)
Bowo, sapaan akrab Sunarno Edi Wibowo, resmi menyandang gelar profesor sejak 9 Mei. Gelar akademis yang seperti mustahil didapat ketika dia masih kecil. Masa-masa ketika harus berjuang untuk sekadar menyambung hidup.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
RUANGAN itu tertata rapi. Di salah satu sudutnya terdapat rak buku. Mayoritas bertema hukum. ”Yang satu deret ini khusus karya saya,” ujar Bowo, si pemilik ruangan, kepada Jawa Pos.
Hingga saat ini 14 buah buku sudah dibuatnya. Masing-masing mengulas jenis hukum yang berbeda. Di antaranya, hukum politik, hukum bisnis, sampai penegakan hukum militer. ”Buku-buku ini termasuk salah satu pertimbangan diberikannya gelar profesor,” tuturnya.
Bowo mengaku tidak pernah bermimpi bisa mendapatkan gelar tersebut. Terlebih, datang dari ASEAN University yang notabene kampus internasional. ”Gelar ini tidak datang tiba-tiba. Ada perjuangan di baliknya. Apalagi kalau ingat masa kecil,” katanya.
Dia berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Bapaknya sopir di salah satu fakultas universitas negeri. Ibunya buruh cuci di rumah sakit. ”Gajinya minim semua. Kami hidup sederhana sekali,” sebutnya.
Bahkan, dia sampai harus membantu ekonomi keluarga sejak kecil. Bowo berjualan jajanan di Stasiun Gubeng ketika usianya menginjak 10 tahun. ”Macem-macem. Jemblem, onde-onde, es kacang hijau bungkusan,” paparnya. ”Yang buat tetangga, sistemnya setoran,” sambungnya.
Bowo menuturkan, penghasilan yang didapat memang tidak banyak. Namun, dia harus melakukannya agar bisa membantu ekonomi keluarga. Minimal tidak meminta uang saku.
Beruntung, aktivitas itu tidak sampai mengganggu sekolah. Termasuk saat masuk SMP dan SMA. ”Sekolah masuk siang. Jualannya pagi. Habis subuh,” ucapnya. Tidak hanya menjual jajanan. Bowo menambah penghasilan dengan menjadi tukang parkir ketika mulai duduk di bangku SMA.
Bowo belum punya pikiran untuk kuliah setelah lulus. Dia memutuskan untuk bekerja. Bapak dua anak itu mendaftar sebagai pembantu umum di fakultas tempat bapaknya bekerja. ”Bagian bersih-bersih sama buat tehnya dosen,” ungkapnya.
Bowo sempat menaruh hati kepada salah seorang mahasiswi selama bekerja. Hubungan mereka kian akrab seiring waktu. Namun, masalah kemudian muncul. Wanita itu menjauh setelah tahu statusnya hanya pembantu di fakultas. Bukan mahasiswa.
Kondisi mengubah pola pikirnya. Bowo mendadak ingin kuliah. Dia mau membuktikan diri bisa sukses. ”Kuliah di Narotama jurusan hukum,” ujarnya. Jadwal kuliah yang fleksibel menjadi salah satu alasannya. Jurusan hukum dipilih tanpa alasan khusus. ”Kebetulan kenal seorang pengacara, sepertinya menarik,” imbuhnya.
Setelah menyandang gelar sarjana, dia ikut beracara di kantor hukum temannya. Bowo banyak belajar menangani perkara. Hingga akhirnya dia membuat kantor hukum sendiri.
Jalan hidupnya sebagai pengacara berjalan mulus. Banyak kasus besar yang ditangani. Di antaranya, penyiraman air keras Siti Nurjazilah yang menyita perhatian publik. Namanya pun kian melambung.
Namun, Bowo tidak mau cepat puas dengan capaiannya di dunia advokat. Dia terus memperbanyak ilmu. Di antaranya, melanjutkan kuliah di jenjang S-2. ”Kuliah di Jogja. Di UII (Universitas Islam Indonesia, Red),” ungkapnya. Begitu lulus, dia menambah kesibukan dengan menjadi dosen di kampus tempatnya menempuh sarjana. Dia juga melanjutkan kuliah S-3.
Nama Bowo semakin terkenal setelah mengisi banyak program talk show hukum di sejumlah stasiun televisi. Bahkan, dia didapuk sebagai konsultan hukum di sejumlah media massa.
Sekitar tiga tahun lalu, tempat mengajarnya bertambah. Bowo menjadi dosen di ASEAN University. ”Beberapa waktu lalu, ada informasi pengajuan gelar profesor,” ujarnya. Bowo merasa bisa memenuhi semua persyaratan. Misalnya, memiliki karya berupa buku dan jurnal internasional.
Keinginannya untuk mendapat gelar itu tidak sia-sia. Setelah menjalani semua prosesnya, Bowo mendapat gelar yang diinginkan. ”Ini semua hasil dari kerja keras. Jadi, kalau ada orang kecil yang bermimpi bisa sukses, jangan pernah takut. Usaha terus yang gigih sampai keinginan tercapai,” tegasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
