
Kampung Peneleh Surabaya. Dok JawaPos
JawaPos.com–Kampung Peneleh di Surabaya diusulkan menjadi lokasi wisata sejarah. Usul itu disampaikan usai peresmian kampung tersebut menjadi cagar budaya.
Warga Kampung Peneleh, Kecamatan Genteng mengusulkan hal itu kepada Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya Budi Leksono. Warga minta kampung dijadikan lokasi wisata seperti Tunjungan Romansa. Sebab, Kampung Peneleh memiliki sejarah panjang bagi Surabaya, bahkan bagi bangsa Indonesia. Kampung Peneleh merupakan tempat kelahiran Soekarno.
Presiden pertama RI itu lahir di Jalan Pandean IV Nomor 50, Kelurahan Peneleh, pada 6 Juni 1901 silam. Saat ini, rumah itu telah menjadi cagar budaya nasional.
”Kawasan Peneleh ini bukan kampung biasa. Di sinilah cikal bakalnya pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia. Bung Karno besar di sini, Tjokroaminoto tinggal di sini, nuansa sejarah kenegaraannya sangat kental. Jadi bukan hanya Tunjungan Romansa saja, Peneleh lebih kental jejak sejarahnya,” ujar H Jupri, warga setempat pada Buleks, sapaan akrab Budi Leksono pada Rabu (23/2).
Serupa, Tomo, salah satu ketua RW mengatakan, dengan menyulap kampung Peneleh menjadi lokasi wisata, perekonomian warga ikut terangkat. Terlebih lagi, Kampung Peneleh dikenal dekat dengan lokasi makam Belanda dan kaum Eropa dengan luas sekitar 4,5 hektare. Pemakaman itu dibangun sekitar tahun 1814.
”Warga Insya Allah akan bisa menjaga. Saya kira pemprov juga akan support asalkan dibangun dengan serius. Kita berharap Pokok Pikiran (Pokir) ini bisa menjadi referensi bisa diterima dan segera terealisasi,” kata Tomo.
Tomo menjelaskan, Kampung Peneleh juga menjadi tempat tinggal Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto. Yakni di Peneleh, Gang VII Nomor 29-31 Surabaya pada September 1907. Di sana Tjokroaminoto tinggal bersama istrinya, Soeharsikin dan kelima putra-putrinya Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad.
”Ada juga Masjid Jami di Gang V Peneleh. Disebut menjadi masjid tertua di Surabaya. Didirikan oleh Sunan Ampel. Masjid tersebut juga tempat Laskar Hizbullah mempersiapkan taktik perang menghancurkan Belanda,” papar Tomo.
Merespon usul warga tersebut, Budi Leksono akan mencoba melakukan komunikasi dan kajian sejarah lanjutan untuk membangun Kampung Peneleh menjadi wisata sejarah di Surabaya.
”Kita akan coba kaji, saya nanti mencoba komunikasi dengan dinas terkait. Secara pribadi saya memiliki pandangan jika Peneleh layak menjadi lokasi wisata sejarah. Bahkan sudah lama saya menginginkan itu,” ucap Budi Leksono.
Dia mengakui, Peneleh merupakan kawasan yang menjadi sorotan dunia karena jejak sejarahnya. Jika Peneleh menjadi kampung wisata sejarah, akan banyak turis lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal bangsa Indonesia melalui Peneleh.
”Dari situ kita bisa memulai kebangkitan ekonomi. Sumber dayanya manfaatkan dari wilayah setempat. Tapi jangan lupa, warga juga harus upgrade diri, upgrade skill,” jelas Budi Leksono yang juga Wakil Ketua Bidang Keagamaan DPC PDIP Surabaya itu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
