
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menandatangani Perda. Pemprov Jatim for JawaPos
JawaPos.com–Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Tunjung Iswandaru mempertanyakan hasil survei Inrix yang mengatakan Kota Surabaya paling macet se-Indonesia. Menurut Tunjung, kemacetan di Kota Surabaya masih wajar.
”Saya kurang yakin terhadap data itu. Karena harusnya enggak kalau saya lihat. Kalau bicara angka yang ada disitu (Inrix) 62 jam per tahun, berarti kalau dihitung selama 1 hari berarti 10 menit diambil dalam jam puncak,” kata Tunjung ketika dihubungi pada Kamis (13/1).
Dengan hasil survei itu, Tunjung menghitung per hari, warga Kota Surabaya akan menghadapi macet selama 10 menit. Bila ditotal satu tahun terjadi kemacetan selama 62 jam, bila dihitung selama 1 hari, kemacetan terjadi selama 10 menit dari jam puncak.
”Katakanlah kalau 1 hari ada 2 jam puncak berarti dibagi 2. Kalau diambil 1 jam puncak berarti 10 menit. Berarti orang membuang waktu 10 menit di atas jam sibuk,” kata Tunjung Iswandaru.
Tunjung menyebut, macet selama 10 menit masih wajar. Dia membandingkan dan mempertanyakan kondisi kemacetan di kota-kota lain.
”Macetnya masih wajar. 10 menit masih wajar. Tapi apakah Jakarta masih bisa di bawah 10 menit?” ucap Tunjung Iswandaru.
Dia mengaku heran mengapa kota-kota lain disebut tidak lebih macet di Surabaya. Sebab tiap kota memiliki tnigkat kompleksitas yang berbeda-beda.
”Saya lihat berdasar ukuran kota, kalau pikiran saya bisa saja dibagi jumlah perjalanan total harian dibagi dengan penduduk kota. Ya pastinya beda dong penduduk Surabaya dibagi dengan Jakarta. Harusnya lebih banyak Jakarta,” papar Tunjung Iswandaru.
Menurut Tunjung, seharusnya perhitungan survei dihitung berdasar penduduk, bukan dibagi jumlah perjalanan. Dengan demikian, kota besar dan kecil akan memiliki perhitungan yang sama.
”Kalau saya bilang dibagi penduduk bukan dibagi jumlah perjalanan. Kota besar kecil dibagi jumlah perjalanan harusnya sama. Tapi kalau berdasar ukuran kota, (hasilnya) beda. Semakin besar kota makin beda (hasilnya),” tutur Tunjung Iswandaru.
Pertanyaan dan keheranan Tunjung itu didasari data mobilitas di Kota Surabaya yang disebut rendah. Berada di angka 0,56 persen. Untuk kecepatan ruas jalan kota pun di angka 42 kilometer per jam.
”Kita nggak tahu yang dibandingkan sama kita (Surabaya) berapa kecepatannya. Sulit bagi saya menyatakan Surabaya lebih baik atau jelek. Karena nggak tahu datanya,” ungkap Tunjung.
Meski demikian, Tunjung mengakui, terdapat beberapa titik yang selalu macet. Di antaranya adalah ruas Frontage Road Jalan Ahmad Yani. Kemudian Jalan HR Muhammad.
”Pagi hari pasti padat saat masuk kota. Kalau sore hari arah ke luar kota. Tapi semua masih bergerak kecuali ada hambatan seperti mobil mogok,” terang Tunjung Iswandaru.
Untuk itu, pihaknya akan mengembangkan transportasi umum. Meski Surabaya tidak memiilki busway atau MRT dan LRT seperti Jakarta, Tunjung menyebut, Surabaya masih memiliki bus BTS dan feeder.
”Solusi harus pro angkutan umum. Surabaya sudah mulai tapi nggak bisa dibandingkan dengan Jakarta. Sudah ada MRT, LRT, busway, di Jakarta. Surabaya tahun ini punya feeder dan bus BTS,” ucap Tunjung Iswandaru.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
