Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 November 2021 | 18.46 WIB

Kampung Ketandan Surabaya, Tempat Persembunyian Pejuang 10 November

Kampung Ketandan Surabaya. Rafika/JawaPos.com - Image

Kampung Ketandan Surabaya. Rafika/JawaPos.com

JawaPos.com–Perang 10 November di Surabaya dikenal sebagai perang rakyat. Peperangan itu membuat Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, mendatangkan banyak pemuda dari berbagai perkampungan.

Salah satu perkampungan yang melahirkan banyak pejuang adalah Kampung Ketandan Surabaya. Letaknya strategis, persis di Jalan Tunjungan Surabaya.

Ketua Komunitas Sejarah Begandring Soerabaia Nanang Purwono menjelaskan, Kampung Ketandan merupakan salah satu kampung tertua di Surabaya. Tempat itu dijadikan langganan para pahlawan sebagai tempat persembunyian.

”Perang 10 November itu kan perang rakyat. Jadi ketika ngomong rakyat, yang keluar ya warga atau rakyat Surabaya. Kampung Ketandan salah satu tempat yang dijadikan tempat sembunyi pahlawan,” terang Nanang, Rabu (10/11).

Menurut Nanang, jejak persembunyian para pahlawan diperlihatkan dengan keberadaan patung-patung pejuang. Di dekat Kampung Ketandan, yakni di depan Gedung Siola.

”Di Gedung Siola ada patung pejuang. Kemudian di Alun-Alun Contong. Lalu dulu di depan Hotel Yamato (sekarang Majapahit) ada patung. Itu menggambarkan rakyat menghadang sekutu. Artinya bahwa yang menghadapi tetntara sekutu itu rakyat,” beber Nanang Purwono.

Tempat-tempat lain yang menjadi jejak para pejaung adakah Jalan Peneleh, Gemblongan, dan Pandean. Peperangan kemudian pecah di depan Gedung Siola.

”Yang menghadapi tentara sekutu dari Tanjung Perak ke selatan, melewati Peneleh sampai selatan ke Gemblongan. Mereka keluar dari kampung-kampung. Makanya di Siola itu ada patung pejuang. Karena di Siola ada perlawanan rakyat,” papar Nanang Purwono.

Ketika diburu sekutu, para pejuang masuk ke kampung-kampung. hal itu juga menjadi salah satu faktor kemenangan Indonesia. Sebab pejuang sudah tahu seluk beluk kampung.

”Mereka yang tahu kampungnya, mereka sembunyi. Mereka tahu liku-liku kampung. Tidak semata-mata tempat persembunyian, tapi kampung bisa nyambung kemana-mana,” tutur Nanang Purwono.

Kampung Ketandan, menurut Nanang, merupakan salah satu faktor penentu kemenangan. Sebab Kampung Ketandan dikenal sebagai segitiga emas.

”Dari Jalan Tunjungan itu kan nyambung ke Jalan Embong Malang, Praban, Blauran, bahkan depan Tunjungan Plaza. Sekutu mana tahu jalan kampung? Kuncinya ya di para pahlawan,” ujar Nanang Purwono.

Pengetahuan kampung itu, lanjut dia, menguatkan faktor kemenangan pahlawan. Sekutu tiba-tiba kaget diserbu ribuan pejuang yang muncul dari dalam kampung.

”Jalan Embong Malang ini juga tempat persembunyian. Ketandan, Kebangsren, Praban, itu merangsek ke Tunjungan. Di kampung itu bersembunyi sebelum menyerang,” beber Nanang Purwono.

Kini, Kampung Ketandan berdiri tersembunyi di tengah megahnya Jalan Tunjungan Surabaya. Meski letaknya strategis, belum banyak yang tahu keberadaan kampung itu.

Pemerintah Kota Surabaya kini berupaya kembali membangun atau merevitalisasi area Kampung Ketandan. Kampung itu telah diresmikan menjadi kampung wisata sejak 2016.

Tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Kota Surabaya berencana untuk kembali membangun Kampung Ketandan. Pembangunan itu selaras dengan pencanangan program Mlaku-mlaku Tunjungan.

”Memang sudah direncanakan. Tapi masih menunggu pembukaan program,” ucap Keplaa Disbudpar Antiek Sugiharti.

Salah satu warga Kampung Ketandan, Lilies Lestari, mengakui bahwa di kampungnya sudah terdapat banyak kegiatan. Salah satunya adalah pembukaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) warga setempat.

”Banyak produk UMKM yang ditawarkan warga. Mulai dari usaha katering, minuman, hingga, cookies,” ujar Lilies.

Pendopo atau Joglo Cak Markeso di tengah kampung, diakui Lilies, menjadi salah satu daya tarik. Sebab, warga kampung maupun warga luar kampung bisa menyelenggarakan acara di tempat tersebut.

”Biasa ada acara di sini ya. Dulu Bu Risma (mantan Wali Kota Surabaya) sering kesini. Dengan revitalisasi kampung lagi, pasti kampung lebih berkembang,” kata Lilies.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore