
Photo
JawaPos.com- Peningkatan volume sampah, membuat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabon, Sidoarjo, sudah overload. TPA itupun sementara ditutup. Kini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pemkab Sidoarjo mulai mengoperasikan sanitary landfill.
Langkah tersebut diambil setelah izin dari Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) untuk kondisi darurat sudah dikantongi. Kemarin (1/11), sanitary landfill itu untuk kali pertama beroperasi untuk uji coba.
Yang diuji coba pertama adalah mesin sorting. Sebab, pengelolaan sampah awal di sanitary landfill adalah pemilahan sampah. Dalam uji coba kemarin, sampah yang ditangani belum banyak. Biasanya, rata-rata ada 460 ton sampah yang dibawa ke TPA Jabon. Nah, karena masih uji coba, hanya sekitar 20 truk sampah yang datang ke sana. Jumlahnya sekitar 35–40 ton.
”Kami jalankan sesuai SOP, sambil terus berkoordinasi dengan Kementerian PUPR,” ujar Kepala DLHK Pemkab Sidoarjo M. Bahrul Amig.
Pada uji coba itu, DLHK melibatkan 25 pemulung sebagai tenaga pemilah. Para pemulung itu diberi keleluasaan mengambil sampah yang sudah dipilah untuk dijual lagi. Misalnya, plastik, botol, dan lainnya. Sampah organik hasil memilah dibuat menjadi kompos.
Menurut Amig, nanti para pemulung tersebut dijadikan pekerja formal di sanitary landfill sehingga tidak lagi menjadi pemulung. Apalagi, kebutuhan tenaga di sanitary landfill mencapai 94 orang. Tenaga itu belum tercukupi sampai saat ini. ”Jadi, nanti para pemulung ini bisa diberdayakan,” kata mantan Kadishub tersebut.
Selain di TPA Jabon, lanjut dia, pemilahan sampah harus dilakukan di tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) di tingkat desa. Dengan demikian, tidak sampai ada penumpukan sampah meski sampah yang dikirimkan ke TPA dibatasi.
Selain uji coba sanitary landfill, upaya penanganan sampah lainnya juga disiapkan. Yakni, mengubah sampah menjadi briket sebagai pengganti batu bara. ”Sampah di TPA Jabon yang sekarang penuh ini nanti bisa habis karena akan ditambang,” ungkap Amig.
Mesin dan alatnya saat ini disiapkan. Mesin itu sebelumnya dipakai di TPST Banjarbendo. Kini tinggal menduplikasi untuk diletakkan di TPA Jabon dan TPST kawasan, bahkan ke TPST tingkat desa.
Banyak pelaku industri maupun usaha kecil dan menengah yang mulai tertarik dengan briket tersebut. Di Banjarbendo, misalnya, ada satu perusahaan yang meminta sampai 40 ton briket hasil pengolahan sampah dalam sehari. Belum industri lain seperti kerupuk dan lainnya.
Harga briket tersebut jauh lebih murah daripada kayu bakar maupun batu bara. Sayangnya, belum semua permintaan terpenuhi akibat terbatasnya mesin di sana.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
