
PENANDA: Gerbang masuk kompleks makam Kiai Pengging.
Ki Ageng Pengging atau dikenal dengan nama lain Raden Kebo Kenongo merupakan salah seorang tokoh babad tanah Jawa yang pesareannya ada di Surabaya. Makamnya ada di kawasan Jalan Ngagel. Tempat itu sering menjadi tempat penarikan pusaka oleh para pemburu benda gaib.
---
PESAREAN Ki Ageng Pengging ada di sisi timur Sungai Kali Mas. Tembok setinggi 2,5 meter mengelilingi kompleks makam itu. Tidak kentara memang. Yang menjadi petunjuk hanya berupa gapura dengan akses masuk selebar 1 meter.
Kamis (28/10), Jawa Pos menyambangi kompleks makam tersebut. Jam menunjukkan pukul 21.00. Namun, suasana hening langsung menyambut kami ketika kali pertama masuk ke kompleks tersebut. Sesekali suara kendaraan yang melintas memecah kesunyian. Tak banyak orang yang bertandang malam itu.
Ketika kami melangkahkan kaki untuk masuk, langsung tampak beberapa nisan yang terbungkus kain kuning. Beberapa ada yang berpayung bangunan cungkup. ’’Biasanya, banyak peziarah yang datang lebih malam,’’ terang Andik, juru kunci pesarean Ki Ageng Pengging.
Itu merupakan kali kedua tim Jawa Pos datang ke sana. Sebab, sehari sebelumnya, Andik menyebutkan bahwa Ki Ageng Pengging belum berkenan dikunjungi. Begitu juga saat datang kali kedua, Andik menyebut Ki Ageng Pengging masih banyak tamu. Kami sempat bingung karena tak banyak orang di sekitar. Ternyata, tamu yang dimaksud adalah pengunjung tak kasatmata.
Menurut Andik, saat itu suasana sedang ramai. Untuk perkara tamu, eyang, begitu Andik menyebut Ki Ageng Pengging, cukup selektif. Ada yang tak diterima. Ada yang sebelum orangnya datang pun, eyang sudah menunjukkan tanda-tanda. ’’Biasanya, kalau masuk ke pesarean, tanda eyang ada itu pasti bau melati kuncup atau kayu cendana. Itu aroma yang disukai eyang,’’ katanya.
Pria gondrong itu pun menyebutkan, saat datang, jangan ada maksud untuk meminta sesuatu ke Ki Ageng Pengging. Harus murni berdoa. Berdasar pengalaman beberapa peziarah, ada yang diiming-imingi pusaka. ’’Biasanya, keris yang muncul, mengetes niat orang tersebut datang itu apa? Apakah tergoda dengan benda yang muncul itu?’’ katanya.
Kalau niatnya tidak tulus, mereka akan tergoda dan berusaha mengambilnya. Dijamin pasti gagal. Namun, jika orangnya datang dengan niat baik, pusaka itu akan muncul dengan sendirinya. Namun, malah orang tersebut tidak akan mau mengambilnya. Andik membenarkan bahwa banyak orang yang memang datang dengan niat yang tidak tulus. Mereka hanya mengejar benda pusaka.
’’Semua bergantung niat. Dan bagaimana tata krama saat datang ke sini. Yang berkali-kali gagal pun ada karena sejak kali pertama datang, orang itu berbohong, ke sini katanya disuruh eyang. Terpaksa berhadapan dengan panglima eyang yang ada di sini,’’ kata Andik.
Selain pesarean Ki Ageng Pengging, di tempat itu ada 27 makam lain. Mereka merupakan para panglima perang dan santri Ki Ageng Pengging. Dua di antara santrinya adalah Mbah Boyo dan Mbah Suro Kuning. Yang disebut-sebut sebagai cikal bakal nama Suroboyo.
Merunut sejarah, Ki Ageng Pengging merupakan putra kedua dari Ki Ageng Pengging Sepuh. Nama Pengging berasal dari Kerajaan Pengging yang ada di Jawa Tengah. Dia merupakan santri terbaik dari Syekh Siti Jenar.
Hijrahnya ke Surabaya merupakan buntut dari Ki Ageng Pengging yang menolak datang saat dipanggil ke Kerajaan Demak. Dia menolak sampai tiga kali. ’’Hingga akhirnya diutuslah Sunan Kudus untuk datang menemui Ki Ageng Pengging, tetapi tetap beliau tidak mau menghadap ke raja Demak,’’ ujar santri Witing Gesang Bagus Brahmana, salah seorang pengunjung.
Pertemuan itu pun berujung pada moksanya Ki Ageng Pengging. Karena tidak ingin berhadapan dengan pamannya sendiri, yakni Raden Patah. ’’Dalam versi lain, ada yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Pengging itu ditusuk di bagian kelemahannya, di siku. Namun, sebenarnya tidak demikian, beliau itu moksa,’’ katanya. Moksanya Ki Ageng Pengging diikuti dengan permintaan pada orang kepercayaannya untuk babat alas di Surabaya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
