Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Oktober 2021 | 01.43 WIB

Jaga Tradisi Sedekah Bumi di Tengah Geliat Kota Surabaya

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Tinggal di kota besar tidak lantas melupakan warisan budaya dan adat-istiadat setempat. Itulah yang dipegang warga Babatan, Kecamatan Wiyung, Surabaya, hingga kini. Minggu (17/10), warga berkumpul menggelar tasyakuran dan sedekah bumi.

Sedekah bumi merupakan ritual warisan leluhur. Menurun dari generasi ke generasi. Wujud sedekah bumi itu beragam. Karena masih pandemi Covid-19, sedekah bumi warga Kelurahan Babatan itu digelar sederhana, bertempat di RW 3, eks Pedukuhan Karangan.

Dalam ritual itu, warga bergotong royong. Mereka membawa tumpeng, sayur-mayur, hasil bumi, hingga buah-buahan. Bahkan, tersaji pula pertunjukan kesenian tradisional berupa karawitan dan tari remo. Sajian itu pun disantap bersama. Suasana pun terasa gayeng, guyub dan rukun.

Sedekah bumi di Babatan tersebut terasa lebih istimewa. Sebab, Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono ikut membaur bersama warga. “Ini salah satu ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas seluruh berkah dan nikmat yang melimpah. Rezeki, kesehatan, hasil bumi, kerukunan antar warga, dan keselamatan yang kita nikmati,” kata Adi.

Dia mengapresiasi dan mendukung tradisi sedekah bumi seperti dilakukan warga Babatan tersebut. Adi menjelaskan, hal ini menjadi penanda warga tetap nguri-uri atau melestarikan adat istiadat dan kebudayaan warisan para leluhur. ‘’Kami berkomitmen dan mendukung agar budaya-budaya lokal Surabaya terus hidup, memperkuat gotong royong, di tengah arus perubahan dan kemajuan kota,” ujar politikus yang ketua DPC PDIP Kota Surabaya itu.

Wajah Wiyung zaman dulu, jauh berubah dibandingkan kini. Kawasan yang masuk Surabaya Selatan itu telah bertumbuh pesat. Begitu banyak berdiri perumahan. Sebut saja, Babatan Mukti, Babatan Indah, Graha Sampurna, Graha Sunan Ampel, Royal Residence, dan banyak lagi. Juga, Perumahan Taman Pondok Indah, tempat di mana Mensos Tri Rismaharini tinggal ketika menjadi Wali Kota Surabaya.

Dari beberapa cerita turun temurun, nama Wiyung merupakan singkatan dua kata. Yakni, dewi dan wuyung. Artinya, dewi yang dicintai. Diceritakan, dahulu kala ada seorang pemuda bernama Ki Sukmo Jati. Dia kasmaran pada seorang gadis jelita bernama Dewi Sekar Arum. Sayang, cinta itu harus kandas lantaran disebut-sebut ada gangguan pihak ketiga. Jalinan cinta muda-mudi itu tidak berjalan mulus.

Singkat cerita, Dewi jatuh sakit hingga meninggal dunia. Ki Sukmo Jati pun bersedih. Lalu, desa itu dinamakan Wiyung yang terkandung arti Dewi yang dicintai. Di Wiyung terdapat sebuah makam yang kerap dikunjungi peziarah. Yakni, Ki Ageng Selo atau Syaikh Abdurrahman, yang juga seorang guru Jaka Tingkir. Nah, beberapa warga meyakini, makam itu tidak lain pesarean dari Mbah Buyut Ki Sukmo Jati, leluhur warga Wiyung tersebut.

Photo

Warga eks Pedukuhan, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, menggelar tasyakuran sedekah bumi, Minggu (17/10).

Tidak hanya di wilayah Wiyung. Tradisi sedekah bumi di Kota Surabaya itu juga masih terpelihara di wilayah lain. Di antaranya, Kecamatan Sambikerep. Minggu (17/10), masyarakat eks Pedukuhan Kuwukan, Kelurahan Lontar, juga melaksanakan selametan tersebut. Warga berkumpul dengan menyanding tumpeng, buah-buahan, sayur-sayuran, hingga jajanan pasar.

Menurut Sariono, ketua RW 6 Kuwukan, Lontar, pihaknya sangat berterima kasih atas dukungan Wali Kota Eri Cahyadi, Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, dan anggota DPR RI Bambang DH dari Fraksi PDIP. “Terima kasih atas aspirasi pembangunan yang telah terwujud, berupa perbaikan saluran air, pavingisasi, dan penerangan jalan umum di kampung ini,” katanya.

Sedekah bumi di Sambikerep tersebut juga dihadiri Adi Sutarwijono beserta sejumlah fungsionaris PDIP. Di antaranya, ada Wakil Ketua DPC PDIP Surabaya Wimbo Ernanto, Wakil Sekretrais Achmad Hidayat, dan Ketua PAC PDIP Sambikerep Saroni. “Kita syukuri, bahwa kegiatan sedekah bumi pada tahun ini bisa digelar. Kita lestarikan warisan leluhur ini sehingga tidak tergerus arus zaman. Tugas kita mewariskan adat istiadat dan budaya baik ini kepada generasi yang lebih muda, generasi milenial,” ucap Adi.

“Sehingga akan tumbuh generasi yang terpelajar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi memiliki kepribadian yang kuat, yang berakar dari nilai-nilai luhur. Kita ajarkan gotong royong kepada generasi muda, supaya dihayati dan dipraktikkan dalam lalu hidup sehari-hari,” pungkasnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore