
Photo
JawaPos.com – Jalan Lingkar Barat (JLB), tampaknya, tak terealisasi dalam waktu dekat. Proyek tersebut tak lagi menjadi fokus Pemkab Sidoarjo. Pemkab kini masih berfokus menuntaskan pembangunan frontage road. Bahkan, proyek jalan itu tak masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
”Tidak ada di RPJMD,” kata Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo Suyarno. Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sidoarjo juga tak membahas penganggaran terkait dengan proyek jalan tersebut. ”Nggak ada sama sekali untuk jalan baru,” ujar anggota Banggar DPRD Sidoarjo Aditya Nindyatman.
Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sigit Setyawan menyatakan, saat ini pihaknya memprioritaskan proyek frontage road (FR) untuk sementara. Sebab, FR juga berkaitan dengan pembangunan flyover Gedangan dan Aloha. Jika FR tuntas dibangun, pembangunan dua flyover bisa segera dilakukan. Kebutuhan itu lebih mendesak karena kerap terjadi kemacetan di titik Aloha hingga Gedangan.
Sigit menuturkan, terkait dengan JLB, yang paling dibutuhkan adalah pembebasan lahan. Rencana awal pada 2014, JLB dibangun sepanjang 5 kilometer dari Ketapang, Tanggulangin, hingga ke Kecamatan Sidoarjo. Ada 1 kilometer di antaranya yang sempat menjadi perhatian pemkab untuk dibangun. Yakni, di lahan di Desa Sugihwaras dan Desa Sumokali, Kecamatan Candi. Nah, dari 1 kilometer itu, ternyata lahan yang sudah dikuasai pemkab masih sekitar 450 meter. Lahan itulah yang sebelumnya diuruk pemkab. Namun, tanah tersebut sebatas diuruk dan sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan. Sisanya, sekitar 550 meter, masih menjadi milik pengembang.
”Kendala utamanya di JLB dengan panjang 1 kilometer itu memang ada tanah milik satu pengembang dan perlintasan kereta api,” ungkap Sigit. Jadi, dibutuhkan overpass di JLB untuk menyeberangi rel tersebut. Anggaran pembangunan overpass juga sangat tinggi hingga ratusan juta rupiah. ”Sehingga tidak mungkin kami membangun sendiri,” lanjutnya. Pihaknya berharap mendapatkan suntikan dana dari pusat.
Sisanya, 4 kilometer, masih sangat jauh dari kata selesai. Di antara 4 kilometer itu, lahan yang dikuasai pemkab sekitar 1,5 kilometer berupa prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU) milik pemkab. Sisanya masih dimiliki masyarakat. Selain itu, belum ada progres pembebasan lahan maupun pembangunan.
Tujuan awal pembangunan JLB adalah memperluas jalan sehingga pengendara dari Porong yang mengarah ke utara tidak perlu melintas di tengah kota di Jalan KH Mukmin maupun Jalan Diponegoro. Pengendara dari arah Porong cukup belok kiri di bundaran Ketapang, Tanggulangin, lalu tembus di Gading Fajar, Taman Pinang, dan Jalan Ponti hingga MPU Tantular atau Jalan KH Ali Mas’ud.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
