
BANGUN KEKEBALAN KELOMPOK: Salah seorang siswa SMPN 1 Geger disuntik vaksin Covid-19, Selasa (3/8). Sebagian anak absen karena berbagai sebab. (Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun)
JawaPos.com – Di tengah-tengah target percepatan demi menuju herd immunity (kekebalan komunal), ada begitu banyak persoalan di balik pelaksanaan program vaksinasi di Jatim.
Bukan hanya soal teknis seperti kelancaran stok vaksin, ternyata masih cukup banyak warga yang enggan mengikuti vaksinasi. Selain itu, problem lain adalah sosialisasi.
Temuan tersebut berdasar hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim selama PPKM darurat 13–20 Juli lalu. Dalam survei tersebut, BPS melakukan korespondensi kepada 12.113 warga tentang alasan mengapa belum vaksinasi.
Hasilnya, 19 persen responden enggan divaksin. Ada 2 alasan utama. Yang paling banyak adalah khawatir akan efek sampingnya (14,8 persen responden). Alasan berikutnya tidak percaya efektivitasnya (4,2 persen).
Faktor sosialisasi juga menjadi salah satu penyebab banyaknya warga yang belum ikut vaksinasi. Berdasar survei itu, 25,7 persen responden masih mencari lokasi yang menyediakan kuota vaksinasi. Sementara itu, 20,2 persen responden mengaku sudah terjadwal, tapi belum waktunya divaksin.
Sekretaris Komite Daerah Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komda KIPI) Jatim Dominicus Husada menyatakan, di setiap program vaksinasi, pasti selalu ada warga yang menolak ikut. ”Baik karena alasan tak percaya manfaatnya maupun khawatir efek samping,” katanya.
Karena itu, dia menganggap hal tersebut sebagai sebuah kewajaran. Tinggal memberikan pemahaman lebih intens. ’’Di negara maju seperti Amerika, yang tidak percaya vaksin juga masih ada,’’ terangnya.
Yang perlu jadi atensi adalah sosialisasi. Sebab, masih banyaknya warga yang tidak tahu teknis pelaksanaan vaksinasi menjadi bukti. ”Bahwa informasi yang diberikan belum jelas dan belum diterima masyarakat,” katanya.
Selama ini, informasi mengenai vaksinasi sering kali mendadak. Tahu-tahu dilaksanakan di satu tempat. Setelah itu pindah lagi. ”Ini harus diperhatikan agar masyarakat bisa lebih mudah memahami alur vaksinasi dan pelaksanaannya. Syarat untuk mendapat vaksin juga harus dipermudah,” katanya.
Sementara itu, terkait dengan masih banyaknya warga yang sudah terjadwal, tapi belum divaksin, dia menduga itu terjadi karena peserta sudah terdaftar sebagai penerima vaksinasi gotong royong yang dilakukan perusahaan. ”Beberapa perusahaan ternyata tidak sanggup untuk membayar vaksinasi itu,” jelasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
