
TARGET SEGERA LANDAI: Petugas berbaju hazmat memakamkan jenazah dengan prosedur Covid-19 di TPU Keputih kemarin (22/6). Pemakaman jenazah Covid-19 melonjak pada dua minggu terakhir. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com – Repotnya penanganan Covid-19 berdampak ke mana-mana. Termasuk yang menimpa Gayus Padakari. Jenazah harus menunggu tiga hari sebelum bisa dimakamkan. Sebab, warga Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu ditolak ketika hendak dibawa ke TPU Keputih. Hingga akhirnya, ada yang memberikan akses bahwa yang bersangkutan bisa dimakamkan di kompleks pemakaman Kembang Kuning.
Pria kelahiran 1978 itu meninggal di tempat kosnya di daerah Kutisari Minggu (11/7). Pemilik kos menghubungi pihak keluarga Gayus yang tinggal di daerah Tubanan, Kecamatan Tandes. ’’Mereka bingung mau dimakamkan di mana. Akhirnya telepon saya,” kata anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Siti Maryam kemarin (14/7).
Maryam langsung menghubungi dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH) yang mengurusi masalah makam. Namun, jawaban dari pihak dinas membuatnya kaget. ”Katanya lahan makam terbatas. Disuruh kontak pemprov,” ucapnya.
Meski tidak mendapat solusi, Maryam tetap mengupayakan agar Gayus bisa dimakamkan. Sebab, memulangkan jenazah ke daerah asalnya tidak memungkinkan. Pihak keluarga yang tinggal di Tandes pun menginginkan agar jenazah dimakamkan di Surabaya.
Maryam lantas menghubungi Satgas Covid-19 Kota Surabaya. Namun, jawaban dari pihak satgas mengambang. Gayus disarankan untuk dimakamkan di TPU Jarak.
’’Memang di situ ada kompleks makam untuk mister X atau T4 (orang dengan tempat tinggal tidak tetap). Tapi, tidak ada kepastian bagaimana prosedurnya, kapan bisa dimakamkan,” katanya.
Hingga akhirnya, jenazah Gayus menginap di rumah saudaranya di Tandes selama dua hari satu malam. Sejak Minggu sampai Senin. Maryam pun menyarankan agar jenazah beserta peti matinya dibawa ke TPU Jarak. Di lokasi, sudah ada dua liang kubur yang digali. ’’Dikira itu untuk almarhum (Gayus, Red). Ternyata untuk orang lain. Keluarganya sampe nangis-nangis,” terangnya.
Akhirnya, jenazah Gayus harus menginap satu malam lagi di Tandes. Kondisinya memprihatinkan. Bau tidak sedap semakin menyeruak dari dalam peti. Darah pun keluar dari dalam peti. Keluarga tidak berani membukanya. Sebab, Gayus dikhawatirkan meninggal karena Covid-19.
Akhirnya, Selasa (13/7) Maryam mendapat akses untuk memakamkan jenazah Gayus di kompleks makam Kembang Kuning. Menurut Maryam, penanganan Covid-19 di bagian hilir tidak boleh dibeda-bedakan. Yang ber-KTP Surabaya maupun non-Surabaya harus diperhatikan. Sebab, arus urbanisasi di Kota Surabaya tidak bisa dibendung dari dulu. ’’Itu sudah menjadi konsekuensi,” tuturnya.
Baca Juga: Khofifah Berharap Jatim Capai Herd Immunity Pada Agustus
Wakil Sekretaris Satgas Covid-19 Irvan Widyanto mengatakan, pihaknya tidak pilih kasih dalam menangani pasien Covid-19. Baik yang asli Surabaya maupun yang dari luar kota. Hanya, pemkot memang memprioritaskan warga Surabaya dulu. ’’Semua kita tangani sama. Tidak ada membeda-bedakan,” katanya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
