
Pekerja mengolah kacang kedelai yang akan di gunakan untuk bahan baku tahu di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/7/2020). Di tengah pandemi Covid-19, penghasilan pelaku usaha tahu dan tempe turun drastis. Penjualan menurun hingga mencapa
JawaPos.com–Sejak akhir 2020, harga kedelai melonjak tinggi. Di pasaran, harga kedelai naik hingga Rp 1.200 per kilogram. Sebelumnya, harga kedelai di pasaran hanya kisaran Rp 7.200 per kilogram. Hal tersebut mempengaruhi produsen tahu dan tempe.
Seperti Kampung Tempe di Tenggilis Kauman Gang Buntu 27, Surabaya Selatan. Di tempat tersebut, tempat pengeringan tempe yang biasanya terisi penuh tempe kini kosong melompong.
Salah satu produsen tempe, Gofur Rohim, 48, mengaku, sudah berhenti memproduksi tempe sejak 30 Desember. ”Kita mogok produksi tanggal 30 dan 31 Desember serta 1, 2, dan 3 Januari. Hal ini tidak lepas dari kenaikan harga kedelai secara drastis setiap hari. Meskipun ukurannya diperkecil berpengaruh pada jumlah produksi yang menurun, konsumen juga tidak mau harga dinaikkan otomatis memperkecil ukuran,” tutur Gofur pada Selasa (5/1).
Dia menyebutkan, kenaikan harga berpengaruh pada penurunan omzet. Sebab, kenaikannya tidak stabil. ”Harga normal di angka Rp 6.500–7.000/kg. Sekarang sampai Rp 9.200 bahkan menyentuh Rp 10 ribu per kilo,” ujar Gofur.
Selain itu, dia juga menghadapi harga kedelai impor yang terus merangkak naik menjelang akhir tahun. Hal itu selalu terjadi selama 3 tahun berturut-turut. ”Kami curiga dengan pemerintah hampir tiap akhir tahun pasti mengalami kenaikan harga kedelai. Padahal sumber perekonomian kami dari produksi tempe,” ucap Gofur.
Produsen tempe dengan meneruskan usaha keluarga sejak 1985 tersebut terus bertahan meskipun keadaan tidak stabil. ”Harapan pengrajin tempe perlu segera solusi dari pemerintah agar bisa produksi kembali,” ujar Gofur.
Sementara itu, UD Sumber Kencana pabrik tahu tertua di Surabaya yang sudah berdiri sejak 1952 tetap berproduksi. Meski harga kedelai naik, dalam sehari pabrik tetap membuat 200 kg tahu.
Selama harga kedelai melonjak, Riani alias Mami Tahu, pemilik generasi ketiga, tidak mengurangi jumlah pembuatan tahu. Namun, dia mengakali dengan menaikkan harga dengan nominal yang tidak besar.
”Dulu per masak harganya Rp 180 ribu, aku naikkan jadi sekarang Rp 190 ribu per masaknya,” ujar Riani ketika dihubungi pada Selasa (5/1).
Selain menaikkan harga, Mami Tahu juga memberikan pengertian kepada para pelanggan bahwa harga kedelai sedang naik. Dia mengaku, tidak mendapatkan komentar atau respons buruk.
”Terus aku bilang ke bakulku, harga kedelai naik ini gimana? Ya mereka bilang jangan dinaikkan, terus ini tak kurangi gimana bahan bakunya, tahunya agak tipis sedikit. Mereka mau ngerti semua bakulku,” tambah Mami Tahu.
Soal harga kedelai yang meroket, Mami Tahu mengaku tidak mendapatkan sosialisasi apa pun dari pemerintah. Dia juga mengatakan, tidak pernah mendapat kompensasi apa pun. ”Nggak ada,” ucap Riani.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=gv8YSijfaTQ

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
