Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Januari 2021 | 00.54 WIB

Harga Kedelai Naik, Pabrik Tahu Tetap Buka, Tempe Stop Produksi

Pekerja mengolah kacang kedelai yang akan di gunakan untuk bahan baku tahu di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/7/2020). Di tengah pandemi Covid-19, penghasilan pelaku usaha tahu dan tempe turun drastis. Penjualan menurun hingga mencapa - Image

Pekerja mengolah kacang kedelai yang akan di gunakan untuk bahan baku tahu di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/7/2020). Di tengah pandemi Covid-19, penghasilan pelaku usaha tahu dan tempe turun drastis. Penjualan menurun hingga mencapa

JawaPos.com–Sejak akhir 2020, harga kedelai melonjak tinggi. Di pasaran, harga kedelai naik hingga Rp 1.200 per kilogram. Sebelumnya, harga kedelai di pasaran hanya kisaran Rp 7.200 per kilogram. Hal tersebut mempengaruhi produsen tahu dan tempe.

Seperti Kampung Tempe di Tenggilis Kauman Gang Buntu 27, Surabaya Selatan. Di tempat tersebut, tempat pengeringan tempe yang biasanya terisi penuh tempe kini kosong melompong.

Salah satu produsen tempe, Gofur Rohim, 48, mengaku, sudah berhenti memproduksi tempe sejak 30 Desember. ”Kita mogok produksi tanggal 30 dan 31 Desember serta 1, 2, dan 3 Januari. Hal ini tidak lepas dari kenaikan harga kedelai secara drastis setiap hari. Meskipun ukurannya diperkecil berpengaruh pada jumlah produksi yang menurun, konsumen juga tidak mau harga dinaikkan otomatis memperkecil ukuran,” tutur Gofur pada Selasa (5/1).

Dia menyebutkan, kenaikan harga berpengaruh pada penurunan omzet. Sebab, kenaikannya tidak stabil. ”Harga normal di angka Rp 6.500–7.000/kg. Sekarang sampai Rp 9.200 bahkan menyentuh Rp 10 ribu per kilo,” ujar Gofur.

Selain itu, dia juga menghadapi harga kedelai impor yang terus merangkak naik menjelang akhir tahun. Hal itu selalu terjadi selama 3 tahun berturut-turut. ”Kami curiga dengan pemerintah hampir tiap akhir tahun pasti mengalami kenaikan harga kedelai. Padahal sumber perekonomian kami dari produksi tempe,” ucap Gofur.

Produsen tempe dengan meneruskan usaha keluarga sejak 1985 tersebut terus bertahan meskipun keadaan tidak stabil. ”Harapan pengrajin tempe perlu segera solusi dari pemerintah agar bisa produksi kembali,” ujar Gofur.

Sementara itu, UD Sumber Kencana pabrik tahu tertua di Surabaya yang sudah berdiri sejak 1952 tetap berproduksi. Meski harga kedelai naik, dalam sehari pabrik tetap membuat 200 kg tahu.

Selama harga kedelai melonjak, Riani alias Mami Tahu, pemilik generasi ketiga, tidak mengurangi jumlah pembuatan tahu. Namun, dia mengakali dengan menaikkan harga dengan nominal yang tidak besar.

”Dulu per masak harganya Rp 180 ribu, aku naikkan jadi sekarang Rp 190 ribu per masaknya,” ujar Riani ketika dihubungi pada Selasa (5/1).

Selain menaikkan harga, Mami Tahu juga memberikan pengertian kepada para pelanggan bahwa harga kedelai sedang naik. Dia mengaku, tidak mendapatkan komentar atau respons buruk.

”Terus aku bilang ke bakulku, harga kedelai naik ini gimana? Ya mereka bilang jangan dinaikkan, terus ini tak kurangi gimana  bahan bakunya, tahunya agak tipis sedikit. Mereka mau ngerti semua bakulku,” tambah Mami Tahu.

Soal harga kedelai yang meroket, Mami Tahu mengaku tidak mendapatkan sosialisasi apa pun dari pemerintah. Dia juga mengatakan, tidak pernah mendapat kompensasi apa pun. ”Nggak ada,” ucap Riani.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=gv8YSijfaTQ

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore