
Photo
JawaPos.com − Virus baru Covid-19 memaksa kita beradaptasi dengan keadaan. Termasuk acara menunggu berbuka puasa pertama di Masjid Al Akbar, Jumat (24/4). Pada tahun-tahun sebelumnya, biasanya diadakan Festival Ramadan. Ada pasar murah yang didirikan di sekeliling masjid. Warga yang menunggu berbuka puasa bisa berkeliling di sana. Cuci mata. Namun sejak pandemi, acara itu berubah menjadi ngabuburit online.
Dalam acara itu, tidak ada keramaian lagi. Yang terlihat adalah kesibukan petugas di balik layar. Hening pula. Sejumlah monitor dan kamera diletakkan di lantai 3 masjid.
Agar ngabuburit lancar, jaringan internet disiapkan sejak jauh hari. Termasuk teknis penayangannya. Media sosial dan YouTube sengaja dipilih sebagai platform. Dengan begitu, jamaah bisa mengikuti live streaming dari sana. Tujuannya, menjaring kaum milenial. Maklum, dunia mereka tak bisa lepas dari gadget.
Dengan panggung 16 meter persegi, kegiatan ngabuburit online kemarin tayang perdana. Di luar ekspektasi, antusiasme masyarakat ternyata tinggi. Tak terkecuali mereka yang mengatasnamakan warganet.
Perasaan cemas menyelimuti para petugas. Itu bukan terkait gagalnya perform. Melainkan khawatir adanya gangguan teknis. Misalnya, jaringan internet lemot hingga padamnya arus listrik. Rupanya, apa yang dikhawatirkan itu terjadi. Selama lima menit, listrik di Al Akbar padam. Tidak diketahui penyebanya.
Meski demikian, ngabuburit online harus tetap berlangsung. Apalagi, saat itu sudah tersambung dengan puluhan anggota majelis yang ada di Gayungan melalui Zoom. Dalam hitungan menit, semua teratasi. ”Ya, begini yang bikin waswas kami,” kata Humas Masjid Al Akbar Surabaya Helmy M. Noor Jumat sore (24/4).
Acara ngabuburit online dimulai pukul 15.30. Awalnya, acara dibuka dengan salawat Tibil Qulub dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Berikutnya, dilangsungkan khataman online. Melalui bantuan aplikasi Zoom, puluhan jamaah tersambung dengan ministudio di Al Akbar.
Photo
MENYESUAIKAN KONDISI: Imam besar Masjid Nasional Al Akbar Prof KH Ridwan Nasir sedang memberikan ceramah dalam kegiatan ngabuburit online Jumat (24/4). (Omy/Jawa Pos)
Total ada 30 orang. Satu orang kebagian jatah satu juz. Jadi, setiap hari selalu mengkhatamkan Alquran. Dalam sesi tersebut, mereka diberi waktu 60 menit. Setelah itu, baru menginjak acara inti, yakni tausiyah dan motivasi dari kiai dan para tokoh. Khusus tahun ini, tema besar yang diambil adalah Bahagia di Kala Susah. Tema tersebut layaknya kondisi sekarang. Umat Islam diharuskan menjalankan puasa di tengah situasi pandemi yang penuh ketidakpastian.
Pada hari pertama kemarin, pembicaranya adalah imam besar Masjid Al Akbar Prof Dr KH Ridwan Nasir. Tidak ada pembicaraan yang berat ketika siraman rohani diberikan. Semua dijelaskan secara gamblang dengan bahasa yang mudah dipahami. Termasuk cara menyikapi pandemi Covid-19. Ridwan menyampaikan, tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan dalam situasi sekarang.
Sebab, banyak yang bisa dilakukan manusia dalam menghadapi musibah saat ini. Salah caranya adalah dengan berzikir dan membaca Alquran. Ada getaran positif saat manusia membacakan ayat suci. Getaran tersebut membuat imunitas kuat. Sebab, mereka akan merasa tenang. Apalagi jika sudah berpasrah serta tawakal kepada Allah. ”Intinya, ketika iman kuat, imun tubuh akan mengikutinya,” terangnya.
Jadi, kata dia, tidak perlu takut yang berlebihan. Yang penting adalah sikap kita terhadap musibah ini. Sebab, Covid-19 juga memberikan banyak pelajaran. Asalkan kita benar-benar merenung atas kehadiran Covid-19.
Guru besar UIN Sunan Ampel itu mencontohkan, adanya physical distancing membuat orang harus berdiam di rumah. Yang sebelumya tak ada waktu untuk keluarga sekarang bisa memanfatkannya. ”Ini kan membuat keluarga harmonis,” ucapnya.
Belum lagi permasalahan global lainya. Misalnya, terkait polusi. Bisa jadi, kondisi ozon sekarang lebih baik mengingat banyak transportasi masal yang sekarang berhenti beroperasi. Karena itu, puasa sekarang menjadi momentum untuk bermuhasabah dan mengingat apa saja yang telah kita lakukan. Baik terhadap sesama manusia maupun alam.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah tetap bersabar dan menumbuhkan sikap kasih sayang. Mengingat, saat ini banyak saudara kita yang kesusahan. Karena itu, kata Ridwan, saat ini adalah momen yang tepat untuk bersatu dan saling merangkul.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=8Y4CaUASVPM
https://www.youtube.com/watch?v=LCNwf2BEMfA
https://www.youtube.com/watch?v=BUgKwymoGHc

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
