Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Februari 2020 | 22.39 WIB

Surabaya Banjir, Sebanyak 76,6 Juta Liter Air Tumpah dalam 2 Jam

BANTU PENGENDARA: Warga mendorong mobil yang mogok di Jalan Mayjen Sungkono. Ketinggian air mencapai 80 cm. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

BANTU PENGENDARA: Warga mendorong mobil yang mogok di Jalan Mayjen Sungkono. Ketinggian air mencapai 80 cm. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com – Puncak curah hujan di Surabaya dimulai Jumat (31/1). Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Adi Hermanto memperkirakan 76.694.600 liter air mengguyur Surabaya hanya dalam waktu 2 jam. Hujan yang disertai angin kencang itu bakal terjadi sampai Maret. ”Memang puncaknya Februari sampai Maret,” kata Adi tadi malam.

Hujan yang terjadi kemarin begitu lebat. Dalam keadaan normal, saat hujan lebat, air yang turun mencapai 50 juta liter.

Kenaikan lebih dari 50 persen itu membuat sejumlah jalan protokol di Surabaya sempat lumpuh kemarin. Kondisi yang sama membuat ombak di lautan juga tinggi. Nelayan disarankan untuk tidak memaksakan diri melaut.

Jalan A. Yani, Surabaya, yang jarang bermasalah saat hujan akhirnya tergenang juga. Kemacetan mengular hingga ke arah Jalan Raya Diponegoro. Jalan Raya Margorejo, Ketintang, dan Gayungsari juga terendam.

Genangan itu membuat sejumlah ruas jalan ditutup sementara. Misalnya Jalan Ciliwung, Adityawarman, Padmosusastro, dan Hayam Wuruk. Beberapa pengendara sepeda motor menuntun kendaraan masing-masing karena mogok. Sementara itu, di Jalan Ketintang Baru II, air setinggi 30 cm masuk ke rumah warga dan warung.

Titik banjir terparah terdapat di sepanjang Jalan Mayjen Sungkono. Di beberapa titik, ketinggian air bahkan mencapai 80 cm. Beberapa pengendara mobil yang nekat menerobos banjir pun harus ditolong warga. Sebab, mobil mereka akhirnya mogok. Untung, anak-anak muda di sepanjang jalan tersebut membantu dan mendorong kendaraan-kendaraan itu keluar dari genangan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Eddy Christijanto menyatakan memantau langsung penanganan banjir di Jalan Mayjen Sungkono dan sekitarnya. Genangan terpantau mulai pukul 17.57 di jalan tersebut dan surut pukul 19.01. ”Kalau yang di parkiran Vida ini masih sekitar 30 sentimeter. Kami sedang memompa keluar,” ujarnya saat dimintai konfirmasi semalam. Pompa celup yang difungsikan sebanyak dua unit.

Dia menuturkan, kawasan Mayjen Sungkono menjadi salah satu prioritas dalam penanganan banjir. Ada pembangunan mini boezem di depan gedung TVRI dan perbaikan saluran yang hampir rampung. Sementara itu, di tempat lain, linmas dan satpol PP sudah dikerahkan untuk membantu mengurai kemacetan semalam.

Cuaca buruk juga memengaruhi jadwal kedatangan pesawat beberapa maskapai. Selain jadwal kedatangan terpaksa delayed, tempat mendarat pesawat harus dialihkan dari Bandara Juanda. Itu dilakukan untuk menghindari kemungkinan insiden.

Pantauan Jawa Pos di Bandara Juanda, berdasar papan informasi di pintu kedatangan 1B sekitar pukul 18.15 WIB, setidaknya delapan penerbangan yang seharusnya mendarat di Bandara Juanda terpaksa dialihkan sementara. Beberapa maskapai memilih mendarat sementara di bandara lain. Dua penerbangan dari Jogjakarta yang seharusnya take off pukul 16.10 dan 17.15 WIB juga terpaksa ditunda.

Communication and Legal Manager Bandara Internasional Juanda Yuristo Ardhi mengatakan, beberapa pesawat itu terpaksa dialihkan mendarat ke bandara lain. Sebab, terjadi cuaca buruk di Bandara Juanda. Nah, setelah kondisi cuaca membaik, penerbangan dilanjutkan menuju Bandara Juanda. ”Jadi, semacam transit sementara,” ucapnya.

Anggaran Penanganan Banjir Naik

Banjir yang terjadi pada Jumat memang merisaukan. Apalagi, sebelumnya banjir juga sudah menyapa warga Surabaya terlebih dahulu. Namun, sekarang tak hanya terjadi di pinggiran kota. Tetapi juga kawasan utama seperti Ahmad Yani yang menyambungkan Surabaya dengan Sidoarjo.

Anggota DPRD Surabaya M. Machmud menyoroti hal itu. Dalam keterangannya yang diterima JawaPos.com, Machmud menduga ada yang salah dengan program penanganan banjir Surabaya. Katanya, anggaran penanganan sudah naik. "Selama ini, anggarannya tiap tahun ditingkatkan. Tapi banjirnya juga terus meningkat," ujar Machmud.

Dia mengaku menerima banyak keluhan dari warga melalui ponselnya. Tidak hanya keluhan dalam bentuk teks. Tetapi juga dilengkapi foto dan video tentang kondisi banjir semalam. Menurutnya, untuk banjir semalam, Pemkot Surabaya kurang responsif.

Machmud bilang, seharusnya ketika hujan datang, Pemkot Surabaya langsung melakukan tindakan. Apalagi, semalam bukan kali pertama Surabaya mendapat hujan ekstrim yang berujung pada banjir. ''Padahal, kalau di media sosial, Pemkot Surabaya sering digambarkan responsif. Kalau responsif, ketika hujan sudah langsung melakukan antisipasinya," ujar politisi asal daerah pemilihan Surabaya V itu.

Menurut Machmud, apa yang dilakukan Pemkot Surabaya saat ini terkesan seperti memindahkan titik banjir saja. Menurutnya, hal tersebut menujukkan perencanaan yang tidak benar. Itulah kenapa, dia berharap kinerja Pemkot Surabaya untuk mengatasi banjir bisa dimatangkan lagi. Supaya tidak dianggap hanya pencitraan.

"Sebab kalau sudah banjir seperti ini kelihatan, apakah kinerjanya benar atau hanya pencitraan saja. Kasihan warga," jelasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore