Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 September 2019 | 23.48 WIB

Volume Semburan Lumpur Kutisari Membesar, Penampungan Bisa Permanen

DIDOMINASI AIR: Petugas memindahkan drum berisi material semburan minyak di Jalan Kutisari Indah Utara III ke lokasi yang lebih aman kemarin. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

DIDOMINASI AIR: Petugas memindahkan drum berisi material semburan minyak di Jalan Kutisari Indah Utara III ke lokasi yang lebih aman kemarin. (Robertus Risky/Jawa Pos)

JawaPos.com - Semburan minyak bercampur lumpur dan air di Jalan Kutisari Indah Utara III menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kemarin (26/9). Volume lebih banyak jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Sejumlah drum ditambah untuk menampung material semburan. Tong yang sudah terisi penuh sementara waktu ditampung di salah satu tempat pengepulan limbah Surabaya.

Peningkatan aktivitas itu ditandai dengan semburan yang lebih deras daripada sebelumnya. Ada juga penambahan titik keluar. Masih dalam satu lubang. Namun, tidak sebesar semburan pertama Kasi Pemantauan dan Pengendalian Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Ulfiani Ekasari mengatakan, peningkatan itu didominasi kandungan air. Berbeda halnya dengan saat awal berupa material lumpur yang lebih pekat. ”Tidak berbahaya dan gas yang keluar juga masih dalam batas aman. Warga tidak perlu khawatir karena yang bertambah hanya air,” ujarnya.

Kemarin jumlah tong untuk menampung material semburan ditambah. Ada 30 unit lagi yang didatangkan. Dari total 58 tong, 16 sudah terisi cairan minyak bercampur air dan lumpur itu. Artinya, sudah 3,2 meter kubik material semburan yang keluar dari dalam tanah.

Lantas, tong yang sudah terisi dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Yakni, di gudang penyimpanan salah satu perusahaan transporter limbah di Surabaya sambil menunggu adanya keputusan dari ESDM dan pihak terkait soal penanganan minyak mentah tersebut. ”Kalau ditumpuk di sini, khawatirnya mengganggu ketertiban juga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala ESDM Jatim Setiajit menyatakan sudah berkoordinasi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Pertamina untuk penanganan semburan di bekas blok pengeboran Kutisari tersebut. ”Rencananya, tim dari SKK Migas dan Pertamina segera ke lokasi untuk memeriksa kondisi lapangan,” paparnya.

Pengecekan tersebut dilakukan untuk mengetahui potensi gas di dalam tanah. Menurut dia, kandungan minyak dinilai tidak terlalu berisiko. Justru yang berbahaya adalah kandungan gasnya. Sebisanya risiko kecelakaan akibat aktivitas warga yang memicu terbakarnya gas diminimalkan.

Dari pengamatan sementara, Setiajit mengatakan, sumur tua memang tidak dalam. Hanya berkisar 300 meter dari permukaan tanah. Sumur itu tidak aktif, hanya ditimbun tanah. ”Seharusnya kalau seperti itu, diberi casing dulu. Namun, saat itu belum ada cara tersebut,” ujarnya

Setelah tidak aktif, lantas oleh developer didirikan bangunan. Akhirnya, semburan mencari celah dari bawah bangunan. Menurut dia, penanganan bisa dilakukan dengan menutup semburan dengan beton dan dibuatkan bak khusus untuk menampung lumpur tersebut. Misalnya, yang sudah dibuat di titik semburan lain. Masih satu lokasi, tepatnya di Jalan Kutisari Besar.

”Kami tunggu dulu pengecekan dengan gas detector,” katanya. Kalau memang tidak ada gas, menutupnya dengan beton dinilai cukup dan tidak sulit. Setiajit memastikan semburan itu tidak berbahaya. Dia juga meminta agar warga tetap tenang dan tidak panik. ”Yang pasti, kami meminta kepada pemilik rumah untuk melakukan riset lebih dalam,” katanya

Per Drum Minyak Laku Rp 700 Ribu


Fenomena semburan minyak di kawasan Kutisari bukan kali pertama terjadi. Hingga kini, masih ada bekas sumur yang mengeluarkan minyak. Bahkan, kandungannya lebih bagus. Minyak tersebut sering ditambang orang untuk dijual.

Semburan itu berada di Jalan Raya Kutisari Indah. Tepatnya di area ruang terbuka hijau (RTH) bawah saluran utara tegangan ekstratinggi (SUTET). Di lokasi tersebut, semburan tidak terlalu signifikan. Hanya sesekali muncul letupan gelembung gas. Baunya juga tidak menyengat seperti di Jalan Kutisari Indah Utara III. Minyak tersebut berasal dari rembesan tambang yang sudah ditutup.

Ada sebuah kolam berukuran 1 x 2 meter dengan kedalaman 1 meter untuk menampung rembesan itu. Di sana tampak jelas minyak berwarna hitam pekat di lapisan atas. Di bawahnya terdapat lapisan air yang bening.

Lurah Kutisari Titik Eko Prasetyaningtyas mengatakan bahwa kolam itu sudah lama ada. ’’Warga di sini menganggap ini sudah biasa,” katanya Memang fenomena semburan lumpur dianggap sebagai kejadian biasa. Selain di titik pengeboran yang sudah tutup, rembesan minyak keluar dari dalam tanah di beberapa saluran.

Saat hujan dan air tinggi, minyak menempel di tembok saluran. Bekasnya tidak hilang sampai sekarang. Namun, semburannya tidak terus-menerus, hanya sesekali.

Di titik sumur Jalan Raya Kutisari Indah, ada orang yang biasa mengambil minyaknya. Mereka menampung minyak tersebut, lantas menjualnya. Tidak tanggung-tanggung, minyak dalam satu drum kapasitas 200 liter dibanderol Rp 700 ribu.

Karena semburan sangat kecil, mengumpulkan minyak pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam sebulan, belum tentu bisa terkumpul satu drum cairan kental kehitaman itu.

Pakar kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember Fredy Kurniawan menyebut cairan minyak yang keluar itu termasuk jenis hidrokarbon rantai panjang. Artinya, paling mentok bahan itu hanya bisa digunakan untuk oli. ’’Di bekas pengeboran ini, masih mending bisa terpisah antara air dan minyak. Kalau di titik semburan yang terjadi saat ini, minyak sudah bercampur dengan lumpur,” katanya. Disuling dan dijadikan bahan bakar pun akan sulit. Apalagi saat disulut dengan api, minyak tersebut tidak bisa langsung menyala.

Dosen kimia ITS itu juga menyebutkan, langkah cepat harus segera diambil para stakeholder. Sebab, banyaknya minyak yang terbuang ke saluran bisa berbahaya bagi lingkungan. Cara paling mudah untuk mengatasinya adalah membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk memisahkan material minyak dan air. Lantas, endapan minyak yang tersisa diangkut dengan media lain

Titik Bekas Sumur Minyak di Surabaya

- 34 Blok Kutisari

- 36 Blok Rungkut

- 50 Blok Wonokromo

Update Terkini Semburan Kutisari

- Volume lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya.

- Semburan lebih deras.

- Ada juga penambahan titik keluaran.

- Semburan didominasi air.

- Gas yang keluar masih batas aman.

- Sudah 3,2 meter kubik material semburan yang keluar.

*Sumber: ESDM Jatim

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore