Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 September 2019 | 02.48 WIB

Semburan Lumpur di Kutisari Diprediksi dari Eks Sumur Minyak Bumi

MASIH MENYEMBUR: Tim ITS bersama petugas dari DLH Pemkot Surabaya mengecek semburan lumpur di Kutisari Indah Utara. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

MASIH MENYEMBUR: Tim ITS bersama petugas dari DLH Pemkot Surabaya mengecek semburan lumpur di Kutisari Indah Utara. (Robertus Risky/Jawa Pos)

JawaPos.com - Semburan lumpur bercampur minyak bumi dan gas di salah satu rumah dinas milik PT Classic Prima Carpet Industries, Jalan Kutisari Indah Utara III, belum berhenti. Kemarin (24/9) pemkot menggandeng Tim Geologi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) untuk mengobservasi lokasi.

Pakar Geologi ITS Amien Widodo mendatangi lokasi sejak pukul 08.30. Dia didampingi pegawai dinas lingkungan hidup (DLH) dan perangkat setempat. Tim dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk turut meneliti di sekitar semburan lumpur. Tim PGN juga menyempatkan diri mendatangi lokasi di gang 2 yang pernah mengalami kasus serupa Amien mengatakan, Surabaya memang memiliki lapangan minyak yang dibangun sejak era Belanda. Yakni, sejak 1800-an. Nah, area Kutisari menjadi salah satu lapangan minyak yang produktif. Selain Kutisari, ada lagi di area lain. Yakni, Krukah, Gunung Anyar, dan Wonokromo.

’’Statusnya ditinggalkan. Namun, produksi minyak di bawah tanah kan tetap terus berjalan. Karena saat ini musim kemarau. Bisa jadi, kondisi tanah retak membuat lumpur merembes keluar dari sela-selanya,’’ katanya.

Faktor pendorongnya dipicu tekanan gas. Namun, pihaknya belum bisa mendeteksi lebih detail. Sebab, hingga kini observasi lapangan belum selesai dilakukan. Pihaknya juga masih menunggu hasil uji laboratorium lebih dulu.

Amien yakin sejatinya semburan lumpur akan berkurang seiring berjalannya waktu. Dia mencontohkan kasus serupa yang pernah terjadi di kawasan Benjeng. ’’Iya, di Benjeng itu kan enggak sampai sebulan mandek,’’ katanya.

Soal penempatan residu lumpur, dia menyarankan agar tidak diuruk atau ditutup di titik semburan. Sebab, langkah tersebut bisa memacu lumpur untuk mencari titik baru lagi. Sementara itu, limbah lumpur tersebut tetap dimasukkan karung. Nanti dikumpulkan dalam tempat penampungan sementara.

Kasi Pembangunan Kecamatan Tenggilis Mejoyo R Panandaka Chandra Ramayana mengatakan bahwa setiap karung yang berisi lumpur itu akan dimasukkan ke drum berkapasitas sekitar 100–200 meter kubik. Drum itu diletakkan di dalam rumah. ’’Sebelumnya, karung tersebut diletakkan di area lapangan. Tapi sudah dipindah dan dimasukkan dalam satu drum dari DPUBMP,’’ katanya.

Hal itu memang sesuai dengan hasil rapat koordinasi sebelumnya dengan berbagai pihak. Sebab, rumah yang ditinggali Setyawan tersebut kosong tidak berpenghuni.

Berdasar pengamatan, tempat penampungan sementara dekat titik semburan telah dilebarkan. Dari ukuran semula sekitar 50 x 70 cm menjadi sekitar 120 x 80 cm. Sebelum kubangan itu penuh, lumpur tersebut dipindah ke karung yang sudah disiapkan.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengimbau agar tetap tenang. Pemkot bersama para pakar pun sedang bekerja untuk meneliti semburan tersebut. Selain itu, Surabaya memang memiliki sejarah soal perminyakan saat era kolonial. ’’Jangan panik. Jangan bayangkan dengan keadaan seperti kasus Lapindo, Porong. Sebab, belum tentu sama,’’ katanya.

Photo



Para ahli pun sudah dikerahkan untuk mencari solusinya. Yang jelas, warga tetap diminta mematuhi segala anjuran dari pemkot dan tim ahli.

Division Head Gas Distribution Management (GDM) Regional 2 PGN Munari mengatakan, lumpur itu berisi kandungan gas dan minyak bumi. Dia menilai ada perubahan struktur tanah di bawah titik semburan. ’’Kami belum bisa pastikan karena ada bekas pengeboran atau gempa. Ini masih kami observasi dulu,’’ jelasnya.

Dia memastikan gas yang muncul bersamaan dengan lumpur itu bukan dari pipa PGN. Sebab, lokasi pipa berjarak sekitar 600 meter dari lokasi semburan lumpur. Yang jelas, lanjut dia, gas itu menekan lumpur bercampur minyak dari bawah ke atas.

Kasus semburan lumpur bercampur minyak dan gas (migas), tampaknya, tidak hanya terjadi di area Kutisari Indah Utara III. Semburan serupa terjadi di gang sebelahnya, yakni Kutisari Indah Utara II. Hanya, intensitas dan volumenya kecil.

Ketua Pengurus Daerah IAGI Jatim Handoko Wibowo mengatakan, area Kutisari Indah Utara merupakan lapangan minyak produktif sejak era kolonial. Dia mencatat ada sekitar 34 bekas lubang bor yang telah teridentifikasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore