Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Februari 2026 | 17.26 WIB

Bukan Sekadar Sajian, Ini Arti Sesajen Wajib Umat Konghucu Saat Imlek

Ilustrasi sesajen sembahyang leluhur menjelang Perayaan Tahun Baru Imlek.(Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Ilustrasi sesajen sembahyang leluhur menjelang Perayaan Tahun Baru Imlek.(Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Sesajen menjadi bagian penting dalam tradisi sembahyangan umat Konghucu saat Perayaan Tahun Baru Imlek. Persembahan ini bukan sekadar simbol, melainkan wujud doa dan harapan akan keberkahan.

Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026, menjadi momen spesial yang dinanti etnis Tionghoa. Pada kesempatan ini, mereka berkumpul dan beribadah menyambut tahun baru.

Dalam ritual peribadatan, Umat Koghucu menyediakan berbagai sesajen makanan, seperti yang dilakukan Tetua Kampung Pecinan Surabaya, Dony Tjong, yang membuka altar di kediamannya.

Aneka sajian, seperti kue keranjang, arak, kopi, pisang raja, daging babi, teh, kopi, manisan, dan ikan tertata rapi di meja sesajen, lengkap dengan lilin dan hio hio (dupa) berwarna serba merah yang menyala.

Dony Tjong, menjelaskan bahwa setiap jenis sesajen dalam sembahyang Umat Konghucu memiliki makna. Namun secara umum, sesajen dibedakan menjadi dua, yakni sesajen untuk dewa dan sesajen untuk leluhur.

"Sesajen untuk dewa ada lima ragam yang wajib: arak, manisan, sayur, teh, buah. 5 unsur sesajen itu mesti ada setiap sembahyang karena dalam kisahnya itu yang diminta oleh dewa-dewa,” ucapnya kepada JawaPos.com, Selasa (17/2).

Sementara makanan lain dalam sesajen untuk leluhur biasanya disesuaikan dengan kesukaan masing-masing leluhur yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penghormatan dan bakti keluarga.

"Misalnya di sini ada kue keranjang yang teksturnya lengket. Ini melambangkan harapan agar keluarga tetap lengket, rukun, harmonis dalam menjalani kehidupan sepanjang tahun," imbuh Suk Dony, sapaan karibnya.

Kemudian daging babi dalam sesajen melambangkan harapan agar hidup yang dijalani selalu hoki atau penuh keberuntungan. Simbol ini dipercaya membawa rezeki serta kelancaran bagi keluarga.

“Kalau ikan, kopi, nasi, terus masakan sayur cap jay di sini itu karena kesukaannya leluhur,” terangnya, menegaskan bahwa sajian tersebut merupakan bentuk penghormatan pribadi kepada leluhurnya.

Suk Dhony menjelaskan, sajian nasi, kopi, dan arak masing-masing berjumlah tujuh. Angka itu melambangkan jumlah leluhur Suk Dony yang telah meninggal dunia dan didoakan dalam sembahyang.

Sementara buah-buahan, seperti pisang raja dimaknai sebagai simbol agar anak dan keturunan dapat hidup sejahtera, mulia, dan berkecukupan layaknya raja-raja di masa lampau.

“Ada juga uang-uangan di sini, yang ada unsur emas disebut Kim Cua atau uang untuk dewa. Sedangkan unsur perak disebut Gin Cua, yakni uang untuk leluhur,” terangnya.

Seluruh sesajen tersebut diletakkan di atas penutup meja bergambar naga dan delapan dewa. Hiasan itu menjadi bagian penting dari altar sembahyang yang sarat makna simbolis.

“Ini naga melambangkan penjaga alam semesta yang damai dan penuh kebaikan. Delapan dewa memberi kehidupan terbaik bagi para San Pao atau pengikut ajaran Tri Dharma,” ucap Suk Dhony.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore