Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Juni 2023 | 03.11 WIB

Ke Surabaya, Wajib Coba Kuliner Bebek Kanton

Suck My Duck dengan sajian andalan bebek panggang Kanton yang aromatik dengan bumbu-bumbu spesial. - Image

Suck My Duck dengan sajian andalan bebek panggang Kanton yang aromatik dengan bumbu-bumbu spesial.

JawaPos.com–Kalau di Surabaya wajib cicipi makanan olahan dari bebek. Sayang banget sudah di Kota Pahlawan tapi absen dari bebek. Nemuin makanan menu bebek itu gampang kok di Surabaya. Mau makan bebek di restoran atau di tepi jalan ada.

Tidak hanya itu, olahan daging bebek yang disuguhkan juga beragam. Mau yang tradisional atau menu bebek yang modern. Salah satunya restoran yang menyajikan makanan khas Tiongkok (Chinese food), Suck My Duck, bisa dijumpai di Surabaya.

Owner & Management Suck My Duck Gary Rassat mengenalkan sajian andalan yang bergaya Cantonese roast duck. Bebek panggang Kanton yang aromatik dan dimarinasi dengan bumbu-bumbu spesial, kemudian disiram saus sehingga menghasilkan daging yang empuk dan rasa umami yang kuat.

”Beda dengan roast duck lain yang menggunakan saus hoisin. Kami menggunakan saus sendiri, homemade, spesial dan soy base yang dituangkan di atas bebek,” ungkap Gary Rassat.

Dengan koki berpengalaman, daging bebek diolah hingga 18 jam lamanya. Hidangan bebek Kanton itu dinikmati dengan nasi putih yang lembut dan sayuran. Proses memasak daging bebek selama belasan jam tersebut, kata Gary, dimulai dari marinasi. Lalu bebek di panggang dan dimandikan dengan minyak panas sebelum disajikan kepada pengunjung.

Selain olahan bebek yang dibanderol mulai Rp 29 hingga Rp 299 ribu, restoran di Jalan Raya Gubeng No 66 ini juga menghadirkan menu lain di antaranya buttersquid sajian cumi dengan saus butter, softsheel crab with Singaporean chili sauce, oatmeal prawn, atau udang goreng dengan campuran gandum dan telur serta sajian ikan malas.

”Kami di sini 100 persen halal, tidak menggunakan angciu dan semacamnya agar kita bisa jual ke semua orang dan halal,” ungkap Gary Rassat.

Sementara itu, Anthony Putihrai sebagai hotelier dan pegiat bisnis kuliner melirik Kota Surabaya sebagai bagian dari lini bisnis kuliner Indonesia yang semakin maju. Bisnis kuliner di Surabaya dinilai terus berkembang seiring waktu. Dia optimistis cabang ketiga, setelah Jakarta (2021) dan Bandung (2022), di Surabaya juga tak kalah menarik minat konsumen.

”Saya sebagai pegiat kuliner, ingin ini berkembang terus. Saya melihat pangsa pasar Surabaya bagus dan maju. Ketika kita lihat tempatnya strategis dan saya ingin membuka lapangan kerja di mana,” ujar Anthony Putihrai.

Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) tersebut juga percaya dengan tidak menggunakan waralaba, anak muda Indonesia mampu mengelola bisnis kuliner.

”Pangsa pasar di Surabaya sudah maju. Maka memberikan diri buka di Surabaya. Invest rame-rame dan yakin karena kami cukup berhasil di Jakarta dan Bandung, harapan itu pula yang dibawa ke Surabaya,” imbuh Anthony Putihrai.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore