Ilustrasi hujan di Kota Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan air hujan di Surabaya tercemar mikroplastik akibat aktivitas pembakaran sampah. (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Peneliti dan aktivis lingkungan menyebut air hujan yang turun di Surabaya mengandung mikroplastik. Temuan ini memicu kekhawatiran masyarakat karena mengindikasi ancaman pencemaran udara yang serius.
Penelitian kontaminasi mikroplastik pada air hujan di Surabaya dilakukan oleh sejumlah peneliti dan aktivis lingkungan, termasuk Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton).
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini mengatakan jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan di dalam air hujan di Surabaya adalah jenis fiber, yang mana berasal dari serat pakaian yang luruh dan sisa pembakaran sampah plastik.
“Hanya dua jenis mikroplastik yang ditemukan di udara kota Surabaya, yaitu jenis fiber dan jenis filamen. Dan umumnya mikroplastik fiber ini berasal dari sampah plastik yang dibakar," tutur Sofi di Surabaya, Minggu (16/11).
Selain itu, partikel mikroplastik yang berasal dari gesekan antara ban kendaraan bermotor dengan aspal jalan raya, juga ditemukan pada air hujan di Surabaya, mengingat kota ini metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
"Kegiatan laundry atau mencuci dan menjemur pakaian, timbunan sampah plastik, polusi industri, dan asap kendaraan bermotor, turut menyumbang adanya mikroplastik dalam air hujan," imbuhnya.
Karena itu, Sofi mengimbau masyarakat untuk berhenti membakar sampah di tempat terbuka, berhenti membuang sampah plastik di sungai maupun pesisir, berhenti gunakan produk plastik sekali pakai.
"Terapkan publikasi atau sanksi social berupa pemasangan foto warga yang membakar sampah plastik dan membuang sampah plastik ke sungai, (rutin melakukan) uji mikroplastik regular udara kota Surabaya," tegas Sofi.
Sebagai informasi, hasil riset yang dilakukan Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton, menempatkan Surabaya di posisi ke-6 dengan kontaminasi 12 partikel per 90 cm² per 2 jam.
Penelitian tersebut dilakukan selama 11-14 Nopember 2025 di 7 lokasi, yakni kawasan Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.
Pada lima lokasi tersebut, peneliti menempatkan wadah aluminium, steinless Steel dan wadah mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam.
Dari grafik hasil penelitian, wilayah di Surabaya yang paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan 356 partikel mikroplastik per liter, disusul Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309 PM/ liter.
Kemudian HR Muhammad dengan 135 PM/ liter, Wonokromo dengan 77 PM/ liter, Gununganyar dengan 66 PM per liter, Ketintang dengan 48 PM/ liter, dan Dharmahusada dengan 24 PM per liter.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
