Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Mei 2023 | 15.06 WIB

Setelah Pemkot Surabaya dan RSUD dr Soetomo Pastikan Tanggung Biaya, Korban KDRT Bersiap Operasi Ke-6

TERUS BERJUANG: Susi menunjukkan foto kakaknya, Nita, dan keponakannya, Dimas, Sabtu (20/5). Mereka menjadi korban pembaran oleh suami Nita sekaligus ayah tiri Dimas pada 13 April. - Image

TERUS BERJUANG: Susi menunjukkan foto kakaknya, Nita, dan keponakannya, Dimas, Sabtu (20/5). Mereka menjadi korban pembaran oleh suami Nita sekaligus ayah tiri Dimas pada 13 April.

JawaPos.com – Jaminan bantuan dari Pemkot Surabaya dan RSUD dr Soetomo (RSDS) untuk korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Sambikerep sangat melegakan pihak keluarga. Dimas Reza Leo, salah seorang korban KDRT dengan cara dibakar, sedang bersiap menjalani operasi ke-6. Operasi itu bertujuan memperbaiki jaringan pada tubuhnya yang rusak.

Susi, tante Dimas, menyatakan bahwa keponakannya itu sudah bisa diajak berkomunikasi setelah lebih dari sebulan setengah menjalani perawatan intensif pasca kejadian 13 April itu. Makannya pun lahap.

Sebagian perban yang sebelumnya melilit sekujur tubuh dan muka sudah dilepas karena luka bakar hampir 80 persen itu. ’’Luka bakarnya yang masih diperban 12 persen. Yang masih ada di kaki dan tangan,’’ ujar Susi saat ditemui Jawa Pos, Sabtu (20/5).

Pangkal perkara KDRT itu disebabkan Sutikno, 56, yang tega menyiram bensin ke arah Nita Nur Zulaiha (istri) dan kedua anaknya, termasuk Dimas. Akibatnya, mereka mengalami luka bakar hebat. Bahkan, Nita, 36, harus tutup usia karena luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Sutikno yang juga pelaku yang turut tersambar api pun sedang dirawat di RSDS. Kondisinya terus membaik.

Susi pun berterima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan oleh Pemkot Surabaya dan RSDS. Biaya perawatan tersebut sudah tembus Rp 400 juta. Dia sempat bingung soal tagihan biaya perawatan yang begitu besar.

Namun, sekarang semua sudah terjawab, Pemkot Surabaya dan RSDS menanggung semuanya. ’’Saya berterima kasih ke Pak Eri (wali kota Surabaya, Red) sudah dibantu banyak. Pak RT dan lurah juga membantu di sini,’’ ujarnya.

Meskipun sudah ada yang menanggung, masih dibutuhkan proses panjang hingga Dimas bisa pulih. Namun, yang pasti kondisi Dimas tidak bisa kembali seperti dulu. Berat memang masalah yang harus dihadapi remaja kelas II SMK itu.

’’Dia itu cita-citanya ingin jadi polisi. Tapi, sekarang kan sudah cacat, apa bisa Dimas jadi polisi? Ibunya berjuang keras ya karena ingin anaknya bisa kuliah berhasil, jadi polisi,’’ cerita Susi dengan suara bergetar.

Saban hari Nita bekerja serabutan. Mulai jual gorengan hingga menjadi pembantu rumah tangga. Dia menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi kedua anaknya.

Susi pun bertekad akan merawat kedua anak Nita. Dia meniatkan diri untuk menjadi orang tua asuh mereka. Merawat seperti anaknya sendiri. ’’Nanti saya pindah ke Surabaya. Nemani Dimas dan Bagus di sini,’’ ujarnya.

Soal Sutikno, Susi pun sudah bertemu dengannya. Kondisinya membaik dan sudah bisa duduk dan makan biasa. Saat bertemu, Susi mengatakan bahwa Sutikno meminta maaf langsung kepadanya.

’’Kalau saya diminta memaafkan secara manusia, saya maafkan. Tetapi, tetap hukuman berjalan, sesuai dengan yang dia lakukan ke kakak saya,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kepala DP3APPKB Surabaya Ida Widayati menyatakan, urusan pendidikan akan dibantu Pemkot Surabaya. Mereka masih punya masa depan yang harus dicapai. Pemkot akan memastikan hal itu.

’’Yang kami upayakan pertama nanti pasti menyembuhkan traumatis mereka. Dengan kejadian seperti itu, pasti ada rasa sakit yang mendalam. Soal pendidikan, akan kami upayakan terus,’’ katanya. (gal/c12/jun)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore