Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 06.06 WIB

Penyelidikan Dugaan Pidana Ponpes Al Khoziny Sidorjo Ambruk, Kapolda Jatim: Tunggu Evakuasi Rampung!

Petugas melihat bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). (Angger Bondan/ Jawa Pos) - Image

Petugas melihat bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). (Angger Bondan/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Tragedi ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo pada Senin (29/9) lalu menimbulkan perhatian publik. Bagaimana tidak, peristiwa itu tiba-tiba terjadi saat santri sedang melaksanakan Salat Asar. 

Akibatnya, lebih dari 100 orang menjadi korban. Puluhan korban pun diduga masih tertimbun dalam reruntuhan. Banyak yang menyoroti kelalaian pihak ponpes dalam proses pembangunan konstruksi.

Merespons hal tersebut, Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan penyelidikan kemungkinan adanya unsur pidana akan dilakukan setelah proses evakuasi rampung. 

"Nanti dulu, kan (evakuasi) belum selesai. Kita fokus dulu untuk menemukan jenazah-jenazah yang dimungkinkan masih ada di reruntuhan," tutur Ijen Pol Nanang setelah meninjau proses evakuasi di Ponpes, Jumat (3/10). 

Bangunan empat lantai di Ponpes Al Khoziny disebut Basarnas mengalami pancake collapse, di mana tiap lantai runtuh secara vertikal menimpa lantai di bawahnya, menciptakan ruang sempit yang menyulitkan proses evakuasi.

Dugaan sementara, tragedi tersebut dipicu oleh kegagalan konstruksi yang menyebabkan struktur bangunan tidak mampu menahan beban dengan baik. Khususnya dalam proses pengecoran sebelum bangunan ambruk. 

Kapolda Jawa Timur memastikan bahwa aspek teknis penyebab runtuhnya gedung empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny akan diselidiki lebih lanjut oleh tenaga ahli dari berbagai lembaga terkait.

"Ini kan harus dilihat dulu semuanya dari awal. Dari proses yang jatuh ini sudah kita file, kita ambil dokumentasinya dan ini harus menyeluruh. Kami juga ada panduan dari ahli bidang konstruksi," imbuhnya. 

Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya pelanggaran hukum dalam proses pembangunan, termasuk dugaan keterlibatan santri sebagai pekerja, Irjen Nanang memilih untuk tidak berspekulasi lebih jauh.

"Nanti kan kita cek dulu. Itu kan baru suara-suara. Yang jelas nanti kita akan melakukan proses (penyelidikan), tetapi yang utama sekarang adalah masalah kemanusiaannya dulu," tukas Irjen Pol Nanang. 

Kronologi Singkat
Bangunan yang difungsikan sebagai musala di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.

Insiden tragis ini terjadi saat santri Pondok Pesantren Al Khoziny sedang melakukan salat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan.

Puluhan santri diduga masih terjebak dalam reruntuhan. Tim SAR pun terus berupaya mengevakuasi korban dengan menggunakan alat berat (ekskavator dan crane). 

Hingga Jumat (3/10) pukul 19.30 WIB, sebanyak 116 orang korban berhasil dievakuasi, baik secara mandiri maupun oleh Tim SAR, dengan rincian 103 selamat dan 13 korban meninggal dunia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore